JADILAH KITA TUKANG MALING
Falsafah maling.
Sebut saja namanya asep dan dayat, sebelum peluru satuan serse polres bandung barat menyasar tubuhnya, kedua sosok pemuda paruh baya ini, kerap kali melakukan kegiatan pencurian di pusat kota bandung, bahkan dalam menjalankan aksi pencurian ini kedua nya tidak sekali, kota kecil juga tak luput dari incaran aksi kejahatannya. Padahal kota kecil bagi asep dan dayat tak begitu menguasai arah jalan untuk melarikan diri. Semakin hari keahlian maling nya semakin lihai dan pandai. Ilmu pengetahuan tentang maling semakin dikuasai dan mengatasi masalah akibat ulah nya. Makin sering mencuri keduanya semakin percaya diri dan tentu saja semakin pandai, sebab apa, menurutnya modal utama maling adalah ketabahan hatinya sendiri, dengan tabah semakin dirinya tidak takut. Keduanya tahu bahwa sumber ketakutan adalah dirinya sendiri. Semakin dirinya bisa dikuasai, maka ketakutan yang datang dalam dirinya mudah untuk dikuasai, boleh jadi keduanya juga mudah menguasai ketakutan yang datang dari luar.
Ternyata bagi asep dan dayat tabah dan tidak takut, akan bisa mengalahkan apa saja. Bagaimana tidak disebut tabah dan tidak takut, saat melakukan aksi maling asep dan dayat tidak mengetahui betul suasana di dalam rumah yang akan di rampok, padahal jika keduanya masuk ke rumah korban maling, terkadang kedunya melangkahi tuan rumah yang sedang tidur, bahkan mengambil emas di leher korban. Saat melakukan itu semua, ketabahan, sabar, tidak takut dan bisa mengatasi nya merupakan kunci sukses dalam maling. Karena jika tergesa-gesa bukan saja aksinya itu akan mudah diketahui, tetapi bagi seorang maling ketergesaan merupakan cirri orang takut. Oleh sebab itu Kalau orang tergesa-gesa dan merasa takut, boleh jadi orang itu tidak sabar dan tidak mengatasi dirinya sendiri. Ingat ketakutan itu dari diri nya sendiri dan dibikin oleh dirinya sendiri.
Selain itu, jika tenang, ketenangan itu akan membuat keheningan. Para penghuni rumah akan dibawa ke keheningan, mereka dibius oleh keheningan. Bagi para maling, menenangkan diri, agar lawan disatroni dengan keheningan. Lain dari itu semua, falsafah maling yang diajarkan kedunya adalah ketabahan. Ketabahan memang modal utama bagi para maling, bagaimana tidak para maling harus menaiki benteng setinggi meteran, dan harus berjalan diatasnya tanpa harus terpeleset yang mengakibatan hancur rencanannya. Maka nya tidak semua para maling mempunyai ketabahan yang sama, sebaiknya asep menyarankan maling itu dilakukannya dengan sendirian, karena tidak semua orang mempunyai ketabahan yang sama saat dalam menjalankan aksinya.
Kamu juga tau bagaimana dalam cerita tentang ketakutan dalam james rendpil, ketakutan membuat manusia kalang kabut menghadapinya. Cerita tersebut dimulai dengan pertanyaan perihal penyakit yang diderita manusia, derita tersebut datang saat manusia kalang kabut menghadapi rasa ketakutan yang ada dalam dirinya. Bagaimana tidak, tokoh yang doceritakan dalam novel tersebut berusaha mencari temannya di tengah hutan gelap dan tak bersahabat. Namun seketika di tengah hutan itu dirinya bertemu dengan binatang buas, karena takut yang berlebihan berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan dirinya, derita yang dittanggung oleh jasadnya tak dirasakan. Saat dirinya selamat rumah kediamannya sendiri, seluruh jarinya berdarah. Saat dibaa ke dokter, keluar kata-kata yang aneh, anda berada dalam ketakutan yang brlebihan. Hal serupa juga saat dilakukan oleh seorang istri yang merasa dirinya tidak mampu untuk membina dan mendidik ke tiga anaknya, dengan rasa ketakutan yang berlebihan ibu tersebut sanggup membunuh ketiga anaknya itu. Tidak dengan falsafah maling dayat dan usep tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar