Cerita Misteri bukan lah Misteri
Seberapa tinggi kah minat masyarakat Indonesia terhadap tayangan-tayangan misteri ditelevisi atau misalnya membaca di media cetak, majalah, tabloid? Atau seberapa jauh pengaruh tanyangan dan bacaan tersebut terhadap nilai-nilai kebudayaan di masyarakat, kebhinekaan bangsa dan keutuhan keyakinan, saking khawatirnya tidak sedikit berbagai kalangan kini mulai mengecam dan mengkhawatirkan terhadap penayangan yang penuh muatan ilusi ini?
Menemukan jawaban pas dan dipertanggung jawabkan memang harus kita lakukan bersama, termasuk didalamnya upaya dalam membongkar kembali artikulasi tayangan misteri di stasiun televise atau sejumlah bacaan di berbagai media. Tidak bisa di pungkiri kawasan tersebut nampaknya begitu mengasikan untuk dinikmati nya, seolah-olah orang akan merasa rugi jika kemudian harus melewatinya. Percaya atau pun tidak, masyarakat kita begitu terlihat enjoy menikmati cerita misteri tersebut.
Seandainya seluruh stasiun televisi berusaha mengurangi jam penayangan misteri atau sejumlah media cetak tidak berusaha memuatnya jenis cerita tersebut, boleh jadi keinginan kuat masyarakat untuk menikmatinya masih dianggap akan tinggi. Masyarakat akan berusaha menceritakan nya kembali cerita misteri atau fiksi melalui mulut ke mulut, malah kisahnya akan lebih menarik dan dramatis. Pasalnya kekuatan untuk menceritakan kembali cerita fiksi tersebut sangat tergantung kepada siapa yang berusaha dan berani untuk kembali menceritakan. Terlihat sebagian besar masyarakat tidak asing dengan kalimat dan cerita tentang dedemit, kunti lanak dan genderewo. Sejak beberapa tahun lalu cerita miseri ini sudah lama beredar di berbagai stasiun radio dan media cetak atau boleh jadi masyarakat sudah mulai kenal sebelum mengenal radio dan televisi. Akibatnya mereka senang mendengar dan berkenalan dengan dunia mimpi dan metafisik.
Cerita misteri yang beredar dimasyarakat saat ini bukan sebentuk cerita rekaan seperti cerita Agathan Criste tentang Criminal Misteri, atau Edgar Allan Poe tentang Horror Misteri, atau sejumlah tayangan misteri film lebar, dibioskop bioskop kesayangan anda. Bahkan pemahaman tentang cerita misteri tersebut Juga bukan sebuah cerita seperti karya orang-orang jenius seperti Einstein, karl mark, Eagle dan para filosof lainnya di dunia barat, pengetahuan mereka diperuntukan untuk menangkap , membongkar dan mencari kebenaran di balik alam rahasia-rahasia alam raya ini.
Tetapi Cerita misteri yang ada di masyarakat layaknya sejenis kenyataan yang nyata, berdekatan dan tidak misterius. Ia sungguh-sungguh ada, bisa di lihat dan diyakini kebenaran nya. Belajar dari sejarawan kuntowijoyo, dirinya telah membongkar sejumlah naskah-naskah sejak beberapa tahun lalu untuk mengetahui secara pasti apa yang dipahami terkait dengan cerita misteri atau tentang berbagai peristiwa yang oleh masyarakat sekarang masih disebut sebagai cerita misteri.
Dalam sejumlah tulisan nya kuntowijoyo menuturkan kebiasaan masyarakat surakarta pada awal abad ke dua puluh an, suatu malam menjelang pertengahan februari 1914 seorang perempuan dari kampung bratan laweyan surakarta bermimpi dengan seorang kakek. Dalam mimpinya, kakek itu berpesan bahwa dalam dhemit penjaga kampung gajahan akan mempertunjukan permainan gambar hidup { bioskop} di sumur yang berada di halaman rumah nya. Cerita ini memang begitu menarik, beberapa perempuan menyaksikan di sumur itu ada gajah, harimau, nyai blorong, bulan bintang dan dua orang haji yang sedang mengaji. Namun masing-masing orang mengaku melihat peristiwa tersebut sangat berbeda-beda. Singkatnya sumur itu begitu ajaib. Bisa mempertunjukan gambaran hidup seperti bioskop. Sumur digambarkan mempunyai daya misteri, yang mampu menuturkan apa yang tidak mungkin terjadi, layaknya warga dan masyarakat surakarta yang didominasi wong cilik bisa menonton seperti di bioskop.
Bias kah kita membayangkan bagaimana para wong cilik pada tahun 1914 di surakarta itu bisa menikmati bisokop, yang pasa saat itu dipahami bioskop hanya bisa di nikmati kalangan bangsawan dan kalangan berduit, atau orang gedean, untuk masuk nya saja pada saat itu harus mampu mengeluarkan lebih dari 1 golden uang. Tentu Rakyat kecil tentu tidak akan mampu mengeluarkan sejumlah uang tersebut dan mustahil untuk bisa menikmati nya.
Bagi kalangan wong cilik di daerah surakarta ini tentu meberikan arti sudah bisa bermimpi saja sudah merupakan keajaiban seperti apa yang dilihat dalam sumur ajaib. Dalam mimpi itu mereka seolah-olah menemukan harapan ajaib layaknya yang tertera dalam sumur tersebut. Tidak salah kemudian jika mereka mempunyai harapan dan mimpi lebih dari sebuah harapan ajaib dalam menebar benih keajaiban lewat bulan-bintang, di sampul majalah atau dalam tontonan di televise.
Bagi sejarawan kuntowijoyo kisah sumur ajaib di atas itu bukan sebuah pembodohan masyarakat yang tradisonal dan klasik tanpa arti, tetapi justru mengungkap sebuah dunia yang hanya bias di miliki orang-orang kecil. Mereka tidak punya harapan hidup lebih baik dalam masyarakat yang dikengkangi kekuasaan raja, presiden dan kekuasaan modal. Melalui cerita misteri, apa yang tidak bisa di dapat di alam nyata mereka bisa mendapatkan nya di dunia ilusi dan mimpi.
Sesuai dengan perkembangan zaman, pemahaman misteri terus berkembang, apalagi dihubungkan dengan konteks budaya yang terkait erat dengan gaya hidup manusia jaman kekinian. Hubungan industrial dan kekuatan kapitalis dianggap begitu ikut campur untuk menentukan bagaimana mimpi manusia dan misteri di buat. Media televise juga media massa telah dianggap penyambung lidah budaya pop dan kaki tangan kapitalis, dirasakan atau tidak citra dan gaya hidup masyarakat sangat di tentukan dengan iklan mana yang mereka tonton. Akhirnya cerita misteri untuk kali ini, sering kali menggunakan logika, bagaimana seharusnya kita bermimpi. Alhasil melalui sejumlah penanyangan iklan yang masuk ke ruang rumah tangga, dan mereka melakukan perubahan mendasar. Bagimana agar tampil cantik, dan seharusnya pakai produk apa. Dalam kapasitas ini, kesadaran dan nasionalisme warga bangsa ini berlandaskan “aku bergaya maka aku di akui”. ANNA TRIANA REZA, Mahasiswa Universitas Padjadjaran Fakultas Fikom

Tidak ada komentar:
Posting Komentar