DUNIA HAKIKAT PETRUK
Sein dan window, istilah ini sering dipakai filosof asal jerman neitczhe, saat mengupayakan pengertian alam bebas luas tanpa aling-aling. Kebiasaan warga dari sebuah negeri juga jati diri. Kebiasaan pengisi bangsa termasuk kita semua selalu mempertahankan sebuah kebiasaan dan tradisi lapuh dan sudah dianggap usang namun tetap kita berusaha mempertahankannya. Kata sein lebih diartikan kepada ada dan mengada tentang kita disini, boleh jadi kata ini lebih di nota benekan kepada mengamini kebiasaan yang telah di jaga semenjak berpuluh tahun lamanya. Mengada dirinya telah dianggap aman untuk mengartikan segala hal yang berada dalam diri dan lingkungannya. Kata ini menurut sindhunata kerap kali diapakai oleh kalangan seniman, sebagai langkah untuk memahami perihal siapakah dirinya di hadapan kepentingan kelompok dan komonitas memeinjam istilah foucoult. Nada miring, kemudian muncul saat upaya sein nya manusia tidak melahirkan daya kreatif tentang ke adaannya.
Padahal dibeberapa tulisan yang kubaca dalam karya sindhunata wartawan kompas, banyak hal yang harus dijadikan guru dalam hidup. Bagaimana tidak seperti hal nya diceritakan saat petruk tokoh pewayangan menjadi ispirasi dari kalangan masyarakat bawah, sebagai solusi dan langkah terjangkit satu masalah nya. Dalam segi estetika apa yang didapat dari sosok petruk, wajah monyong hidung mancung tak untung untk di pinang wanita cantik anak konglomerat, namun petruk yang diceritakan punya tetesan alam dewa kayangan, menjadi hidup lebih mudah dan bisa diatasi. Tidak tahu jelas, mana yang lebih dulu terpengaruh apakah filosof asal jerman atau tradisi pewayangan jawa, tapi itu semua membuat mengerutkan dahi sejenak. Boleh jadi petruk berpindah dari dunia ada dan mengada menjadi dunia ada dan menjadi. Kini kudapat inspirasi dari dua kata itu, kalimat yang kau goreskan pagi ini, membawa ku ke alam yang tidak seprti biasanya.
Sepertinya petruk mengajarkan ku perihal dunia hakikat, keindahan dapat dirasakan saat kita menemukan diri yang lain dari biasanya kita lakukan dan artikan. Ada ritme dan aroma yang tak kutemukan sebelumnya, saat irama itu kita dendangkan sebelumnya. Bagaimana tidak hakikat ada nya manusia di alam luas berhamparan kebatilan dan kejujuran, petruk ingin kita berada dalam kata jujur untuk memahami apa semestinya diartikan. Paling tidak ada dorongan dalam dirinya untuk selalu ada dan menjadi lebih baik dari sebelumnya, petruk memang mengamini kemampuan dan keterbatasan dirinya, baik dilihat dari segi bentuk wajah dan kesempurnaan jasad. Tetapi petruk membawa khabar baik dibalik fenomena yang dilihat di alam nya, sepertinya petruk ingin berkata ada kata dan kalimat yang tersembunyi dalam diri, kini kau tak juga buka dan gunakan, jika kemudian kau temukan itu nyaris semua nya menjadi mudah, apa katanya itu semua, petruk berdiam diri sejenak dan tidak ada kata sepatah pun keluar dari mulut lebatnya.
Kalau memang aku boleh menata gagasan dan mengaitkan sejumlah teks dan kalimat yang telah kurangkai selama ini di kepala ku, semuanya memang berujung pada artikulasi peran dan makna perihal tentang siapakan dirinya sendiri, memang tidak salah jika kemudian socrates dari sejak awal mempertanyakan terlebih dahulu tentang itu semua, karena menganggap akan lebih mudah dikemudian hari dalam menata. Hari ini aku melihat dan berada di sebuah negeri yang dirudung penyakit ganas, negeri ku yang bernama indonesia telah luluh lantah dirudung masalah, negeri ini membutuhkan sosok petruk yang bisa membawa dunia kahayangan sebagai solusi dari negeri ini. Bagaimana tidak, indonesia telah dipertanyakan nama dan jabatannya, bangsa ini dipertaruhakan sedikitnya ratusan juta penghuni.belum juga keluar dari cobaan krisis moneter yang telah sekian tahun menimpa sebagai penyakit kronis, warga bangsa indonesia kini dihantui penyakit ganas yang mematikan. Negeri ini boleh jadi sedang dirudung yang kata albert camus istilah sampar, seluruh warga sedang dihantui ras takut kematian akibat merebaknya penyakit ganas yang belum ditemukan obat mujarab untuk mengusirnya. Ratusan juta warga dihantui ketakutan kematian, warga bangsa ini telah kehilangan arti ada dan mengadanya, semua nya di hantui rasa kamtaian, jika kemudian mereka belum juga mengambil langkah solutif dari bagaimana seharusnya mereka mencari makan, kini mereka juga dihinggapi rasa bagaiaman seharusnya terjaga dari penyakit yang mematikan itu, penyakit itu boleh jadi adalah plu burung.
Sepengatuhan ku penyakit satu ini tak mengenal usia dan kelas, setiap penjuru negeri ini di serang, ayam mati dan meninggal setiap hari nya, dan juga tidak sedikit warga menjadi korban dari keganasan penyakit plu burung tersebut, dan berlanjut….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar