Belajar Dari Kebiasaan Petruk
Dari semua cerita pewayangan yang ku kenal, Petruk bagi kami punya daya magnis sendiri, di lihat dari perawakan nya tidak ada hal menarik. Hidungnya panjang, badan nya kurus, suaranya melinting juga kulitnya hitam. Namun saat bicara dan mengumbar tentang kebenaran, petruk seolah-olah mempunyai magnis di banding pewayangan lain nya. Bayangkan petruk sering berperan sebagai sosok pengendali kemarahan diantara seluruh anggota keluarga. Di pikiran nya kerap mengumbar satu kebiasaan unik dan menarik. Setidaknya bagi petruk, kebenaran dianggap suatu yang tak kan pernah selesai, ada upaya pencarian yang tak pernah berhenti, untuk tidak terjeitu diperlukan upaya pembingkaian temuan setiap harinya. Upaya ini adalah bagian dari langkah untuk melegendekan , pesan kedua petruk berharap kita sebagai manusia semestinya tidak harus menjadi bagian dari titik orang lain, dan alangkah bagusnya menjadi titik itu sendiri. Pesan ketiga adalah saat mencari kebenaran jangan menganggap orang lain adakah neraka... percaya atau tidak kita telursuri bersama....
Petruk di ketahui anak kedua dari tiga bersaudara, kakak nya cepot kerang kali mengumbar cerita dalam kemasan bahasa khas dan unik, begitu juga dengan adiknya terakhir. Kakak beradik dlam cerita dunia pewayangan ini, tentu sangat seru jika ditelusuri seperti kita menenelusuri tentang kebenaran. Paling tidak kebiasaan saat berusaha menyelesaikan seluruh persoalan dunia pewayangan salah satu jalan alternatif kita semua. Namun tidak aneeh kekerasan harus diperbuat bersama jika memang diperlukan sebagai upaya dalam mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan dan kemanusian. Keterbatasan jasad petruk tak membuat dirinya berhenti untuk berkata dan berkarya dalam melakukan pemberontakan,
Dirinya tidak terikat pada posisi mandul dan berhenti pada satu titik, tapi petruk muncul dalam wajah pengkritik. Tidak tembok sebagai pemisah saat berupaya untuk menjadi dirinya sendiri. seluruh kebudayaan tampil dalam wajah petruk, petruk pula yang muncul sebagai simbol wong cilik yang berusaha meraih hak dan kewenangan dirinya disebut manusia.
Dalam benak saya, tradisi pewayangan tidak hanya sekedar hiburan untuk menghibur masyarakat kelas bawah. Tetapi tradisi seperti ini, konon sebelumnya sering dijadikan sebagai alat dalam penyebaran paham dan keyakinan, cara ini dianggap sebagai media paling murah untuk mempengaruhi suasana masyarakat pada saat itu. Terlepas dari itu, bagi kami petruk ada nilai-nilai filosofis tak kentara. Percaya atau tidak, hal tersebut bisa di umbar saat menafsirkan nilai jujur dalam arti hakikat.
Petruklah yang mengajarkan kita tentang dunia hakikat, melalui makna keindahan. Rasa indah akan mudah didapat saat berusaha menelusuri juga mengatakan sisi lain. Emang agak nya kabur, namun yang jelas keindahan akan ditemukan saat kita mengerti wilayah lain dalam diri kita semua. Wajar kemudian jika setiap orang imtil berusaha mengungkap sisi lain dari dalam dirinya, tidak sedikit kita harus berpura-pura, menebar wajah manis dan meakukan di luar kebiasaan. Kalau begitu kenyataan nya usaha dalam mengungkapkan rahasia siapa sebenarnya diri kita, akan tergambar dikemudian hari bahwa musuh kita sendiri adalah diri sendiri. Kita menemukan musuh yang ada dalam dirinya sendiri. Akibatnya kita ternyata mengandung musuh yang di carinya setengah mati.
Seperti musuh kita selalu mengeluarkan kata-kata kotor, tutur kata kita seolah-olah tidak karuan. Kita terlihat tidak sabaran, kita kehilangan rasa malu, kita suka memaki-maki dan menjatuhkan banyak orang. Seperti musuh kita suka mengumbar sumpah serapah. Alhasil Kita adalah celeng nya. Sejenis binatang yang suka merusak tanaman masyarakat, tidak ada banyak manfaat, bahkan ketakutan semakin menjadi-jadi karena kehadirannya tidak diinginkan warga sekitar. Dan boleh jadi celeng menganggap orang lain adalah neraka. Begitu pula dengan kehadiran dan kemampuan nya sendiri. Apa yang diharap jika memang kita semua seperti itu. Brecht bilang haruskan kita bahagia didalamnya, tak kan datang jawaban lain selain mejawab nya sendiri.
Emang kita harus melakukan sekedar riset kecil-kecilan untuk menjawab pertanyaan brecht, hanya diri kita sendiri yang bisa menjawab dan meraih kebahagiaan. Jika dipaksakan sekuat tenaga, boleh jadi alhasil dianggap tidak selalu memuaskan. Karena menurut Socrates dalam diri kita ada keterbatasan dan kemampuan cara pandang atau intelektual, yakni dengan nama phronesis semacam kebijaksanaan untuk mengakui segala keterbatasan pengetahuan kita, tanpa kehilangan kepastian bahwa kita dapat bicara kebenaran.
Sejarah kemanusiaan di bumi pertiwi ini, kerap kali menggambarkan sebuah usaha dalam pencarian tentang apa yang disebut dengan kebenaran. Kata ini nyatanya mudah di katakan dan tidak asing ditelinga kita. Namun jika ditelusuri jauh ke belakang ada irama yang memerlukan keseriusan. Saking seriusnya Nietczhe pernah bilang dengan sosok sang zarathustra, jika memang kita ingin menjadi hamba kedamaian dan kebahagiaan maka percayalah, jika memang kita ingin menjadi murid kebenaran maka carilah.. pesan ini tentu memberikan gambaran kepada kita bahwa proses pencarian begitu diyakini sebagai upaya untuk bertemu dengan kebenaran. Benar berati tidak salah, sesuai dengan logika dan berarti pula benar adalah cara pandang. Kebenaran cara yang tidak akan berhenti, layaknya proses pencarian selalu mengembara dengan tanpa batas. Mencari kebenaran berarti pula berusaha mengajukan pertnyaan mendasar, lagi-lagi memang kebenaran merupakan hasil sudut pandang seseorang saat berusaha menafsirkan terhadap apa yang dilihat dan di fikirkan.
Layaknya pengembaraan berfilsafat, apa yang dicari bukan lah satu titik kebenaran tetapi aroma yang membuat hidup tidak lagi bergantung pada orang lain. Bukan lah hak seseorang untuk menggantungkan kepada orang lain, kebenaran yang di yakininya tidak lain dari hasil ketergantungan, tetapi jawaban pertanyaan yang kita ajukan. Dari cara seperti inilah kemudian muncul satu kebiasaan untuk menyelesaikan masalah serta menuangkan nya dengan gagasan kreatif cemerlang tentu juga ke arifan. Dalam bahasa social disebutnya adat atau kebiasaan,
Artinya dalam setiap upaya untuk mencari apa yang kita cari, dianggap seperti kita melakukan nya seperti mencari kebenaran, yakni dengan mengumbar sejumlah pertanyaan mendasar, hal tersebut bisa di pahami seperti hubungan antara guru dan murid, keduanya tidak berada pada posisi mengetahui, tetapi pada menelusuri dan memahami.
Bahagiakah kita saat berusaha berpegang terhadap kebenaran yang kita cari sebelumnya, tentu jawaban nya boleh jadi ya atau boleh jadi tidak. Kata ini memang terbilang subjektif, artinya penentuan makna tergantung pada siapa yang melakukan nya. Sama hal nya juga kebenaran dari mana dan siapa yang melakukan penarian nya. Jika kemudian kedua-dua nya berada dalam posisi sama, mana disebut dengan hakikat kebenaran dan kebahagiaan yang kita cari selama kita hidup.
Sambil membaca filosofis petruk saat ini saya masih meraba-raba, yang jelas kita semua berkata juga berada dalam kapasitas musuh dan tak tau diri....
MENGAPA KITA MENJADI ORANG YANG TIDAK MUDAH MENGHARGAI?
MENGAPA KITA MENJADI ORANG YANG TERGESA-GESA?
MENGAPA KITA HARUS KECEWA?
MENGAPA KITA MENJADI KEKANAK-KANAKAN?
Adalah sejumlah pertanyaan yang tak kan puas dalam memberikan khabar... minta tanggapan nya kawan...
feri wahyudin '
anak bangsa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar