Harapan palsu ala sindunata….
Dalam novelnya schatzing, setidaknya menggambarkan akan datang masa yang akan menghancurkan dan membinasakan bumi manusia. Romannya bukan saja menggambarkan horror tentang masa depan. Tetapi malah memberikan gambaran akan ancaman bencana kepada bumi ini, novel ini justru melukisan tentang realisme masa kini. Maksudnya adalah bencana sedahsyat tsunami akan tiba menghampiri bumi kapan dan dimana saja kita berada. Datangnya bencana tinggal hanya soal waktu saja dan manusia tak dapat lagi memastikan untuk lari dan menolak bencana tersebut.
Dengan bencana yang terus menerus menerjang bumi ini, meluluhlantakan teori tentang rasa aman di bumi manusia ini, mungkin rasa aman ini yang menjadi titik kritik dari novel schatzing. Merasa aman dan nyaman dari bumi yang dipijaknya adalah bagian dari harapan palsu. Sebab kita telah tertipu dengan pikiran bahwa bencana bagian dari kejadian yang sudah berlalu. Padahal menurutnya, kita berada disela sela bencana atau memang kita berada dalam pause, namun kemudian adalah seberapa lama jeda itu boleh kita nikmati.
Dengan perkembangan teknologi sebagai jargon alam modern membuat manusia berada dalam jumawa, padahal telah terbukti kemarahan alam teknologi tak kuat menghadapinya. Boleh jadi besok meteor jatuh dan akan membumi hanguskan alam ini. Ke jumawa an alam modern yang ditopang dengan teknologi itulah yang membuat sastrawan satu ini gerah melihatnya. Selain kita di tuntut untuk menghindari kejumawaan dan sifat acuh terhadap alam, oleh sebab itu kerahasian alam tak terungkit ke permukaan karena memang manusia modern telah bersifat acuh.
Yang diperlukan sekarang adalah membangun cara berfikir teknologi humanistic, maksudnya adalah bagaimana mempersiapkan perangat ilmu pengetahuan dan teknologi yang akrab dengan alam, biaya penelitian yang dikeluarkan pemerintah republic ini untuk memperkecil bencana alam tersebut. Sayang kesadaran macam itu bagi Negara industri telah dikesampingkan. Bagaimana juga teknologi telah membentuk pikiran warga ini kepada situasi kepastian rasa aman.
Jadi pikiran merasa aman itulah yang harus di perbaharui, betapapun teknologi dan industri meyakinkan warga pasti rasa amannya. Namun yang jelas teknologi jauh dari sisi kemanusiaan dan jauh dalam alam realistis. Hanya sastralah yang membuat itu terjungkil balik. Sastra mampu membuat manusia berfikir, bagaimana manusia berada dalam keakraban dengan alam bumi yang di pijaknya. Maka boleh jadi sebagian agamawan meminta yang maha ini untuk melindungi dari bencana yang terus membayanginya.
Namun yang menjadi heran adalah, kita harus khawatir terhadap harapan kita sendiri, karena kerap kali harapan tersebut berlebihan dan menjadi tidak realistis, karena tidak realistis dan berlebihan itu lah harapan khawatir untuk didekap. Kini harapan itu hanya milik orang mapan dan enak dalam hidupnya, kaum ini sering berharap lebih dari biasany. Seperti pepatah harapan adalah milik orang mapan dan enak, warga yang berada pada posisi sebaiknya justru dilarang untuk berharap banyak terhadap kehidupannya. Jadi bagi mereka yang tertindas dan menderita dilarang keras untuk berharap. Padahal harapan bagi orang mapan, enak dan kaya merupakan bagian dari harapan palsu.
Bencana yang menimpa saudara kita di aceh, penyakit plu burung yang terus menyerang sebagian warga miskin di beberapa kota dan juga bencana alam lainnya yang mengakibatkan jatuh korban banyak, semestinya mereka lah yang harus berharap. Atau boleh jadi mereka menderita diserang berbagai persoalan arena kita memang telah jumawa akan ilmu dan teknologi yang menghiasi pikiran itu semua. Padahal mereka semestinya yang wajib untuk berharap. Atau meminjam istilah sindunata, harapan palsu itu telah terselubung dengan cita-cita nasionalisme dan atas nama Indonesia serta demi harga diri, ribuan warga bangsa ini rela menderita. Bijakkah kita berharap atas nama bangsa dan harga diri Indonesia mereka harus menderita.
Ya tentu jawabannya memang tidak, karena semua generasi pemuda dan bapak pendiri bangsa ini tentu berharap, jika kemudian negara Indonesia dan atas nama nasionalisme warga bias berharap banyak. Pasti bapak pendiri bangsa ini tak mungkin tega melakukan tindakan refresif yang menistakan lebih membinasakan warganya. Jika kemudian hal tersebut pada kenyataan nya nampak ada di tengah kita semua, apa cita-cita pendiri bangsa dan nasionalisme kebangsaan ini mulai luntur dan tak bernilai. Sebagian warga negri Indonesia ini, terlihat begitu sangat menderita dan tak pernah menikmati kemerdekaan juga pembangunan. Kelihatan nya mereka tidak begitu menikmatinya juga merasakan suasana kegembiraan. Tak terpancar dalam bathin, wajah dan badanya suasana girang gemilang. Sepertinya warga telah dibius dengan aroma keheningan, keheningan membuat warga negeri ini ditipu, dibius dan disulap menjadi diam dan tak pernah bertanya yang macam-macam. Bayang kan sobat, bagaimana seluruh generasi telah diheningkan dengan atas nama kemapanan dan kecanggihan teknologi, pembangunan jargon kerakyatan mensulap mereka menjadi diam seribu basa. Mereka terdiam tak ada sepatah katapun keluar yang berupaya dalam menikmati tumpuan harapan hidup nya.
Boleh jadi bagi kita semua bangsa dengan nama Indonesia ini telah membawa kepada kawasan kebinasaan, tentu saat seluruh wilayah di negeri ini berupaya untuk merdeka menjadi salah satu bukti, mereka sudah tidak bias mengartikulasikan apa yang disebut nasionalisme. Kemerdekaan bagi mereka adalah berharap banyak dan menjelmakan mimpi itu semua. Bagi kami khusus nya saat ini, sangat tidak mengerti bagaimana niatan baik terhadap cita-cita berdirinya bangsa Indonesia ini. Jargon “hidup lah bangsa ku hidup lah negeri ku” sepertinya perlu untuk di tafsir kan ulang. Nasionalisme sebagai jargon dalam mempersatukan bangsa ini dalam keruntuhan dan kepentingan semakin tak kentara. Mereka berontak dan meminta hak nya untuk menggapai harapan atas masa depan nya.
Kalau saya boleh menulis di sini, memang seharusnya kita melakukan segala sesuatu di sini dan sekarang tidak harus berharap banyak, karena jika kemudian itu semua dilakukan akan berada beban yang menjadi-jadi. Berjuang dengan tidak berharap jauh lebih penting dan tinggi salah satu langkah dalam menemukan tingkatan eksistensi diri di sebut manusia berkasadaran. Camus adalah bapak nya dalam hal ini, tidak percaya kita buktikan semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar