Kota Oran di serang wabah sampar ala albert camus
Wabah penyakit sampar yang telah membinasakan banyak orang telah menyerang warga kota oran, dalam cerita yang ditulis camus ini, sedikitnya menggambarkan peristiwa serangan penyakit yang telah menyerang warga oran. Tidak hanya itu, camus juga menggambarkan bagaimana orang menanggapi dan bersikap di tengah bencana massal tersebut. Lain dari pada itu semua, yang lebih penting mungkin adalah keterlibatan kita sebagai pembaca dalam permenungan tentang eksistensi manusia itu sendiri.
Sebenarnya manusia tidak bisa merubah takdir, nasib diri dan sejarah, yang bisa diperbuatnya adalah melawannya…..
Oran boleh jadi negeri dermawan yang menaungi ratus ribu warga, negeri ini terkenal dengan kehidupan warga harmonis, bertetangga dan juga rukun. Namun tak lama kemudian negeri rukun tersebut secara tiba-tiba di serang penyakit memilukan yakni penyakit sampar. seluruh warga republic ini secara tiba-tiba tak ingin mendengar dan tak mau bercerita perihal satu penyakit yang belum ada obatnya. Mereka menilai bahwa Sampar adalah symbol kemalangan, kejahatan dan kesewenangan atau apapun namanya yang kerap kali menimpa manusia.
Dalam awal cerita, oran telah menyerang negeri sampar. Tak seorang pun mempercayai dan berani menceritakan perihal penyakit sampar. Seperti biasanya, pejabat teras pemerintah enggan untuk membicaraknnya, karena dianggap telah membuang-buang waktu. Dengan tertatih-tatih pejabat itu menolak ide adanya oran di negeri mereka, bahkan mereka menyepelekan peran warga, menurutnya warga tidak mungkin untuk berfikir tentang penyakit tersebut, wong mereka memikirkan kesehariannya juga kalang kabut. Kini Warga terpatri dengan kebiasaan keseharian, mereka sibuk memikirkan perihal rutinitas keseharianny. Boleh jadi banyak warga tak mungkin percaya, kalau memang penyakit tersebut belum berada di depan mata dan halaman rumah mereka.
Dalam awal cerita bagaimana digambarkan pemerintah setempat telah mengambil tindakan yang semestinya jauh terlebih dahulu bertindak. Ketakukan membuat mereka kabur akan masa depan politik nya, pejabat bingung saat ribuan tikus hilir mudik dikota sampar dengan membawa penyakit yang mematikan itu. Lalu kemudian untuk memanipulasi terhadap rakyat, pejabat membikin papan pengumuman perihal negeri sampar telah terserang penyakit sampar. Tetapi kemudian pengumuman tersebut di simpan d pojok kota yang tidak kelihatan banyak warga. Baru setelah ribuan warga jatuh korban, rumah sakit dipenuhi pasien dan dokter kewalahan merawat pasien, lalu kemudian pejabat membuat pengumuman perihal penutupan kota oran, dan kota tersebut untuk sementara ditutup.
Selang beberapa bulan dari penutupan kota oran, penyait semakin merajalela dan pejabat semakin bingung saat ratusan nyawa melayang setiap minggunya. Dan pemerintah kehabisan akal sehatnya, harus berbuat apa saat ratusan nyawa melayang setiap harinya, semakin hari semakin penyakit sampar merajalela. Meningkatnya korban yang berjatuhan itu, membuat warga terbangun dari tidurnya, mereka tidak lagi disibukkan dengan kegiatan sehari-hari. Karena sampar telah meluluhlantakan dan menghambat perjalanan perekonomian serta rutinitas keseharian warga. Kini sampar menjadi pemikiran semua orang.
Kini kebiasaan warga seperti tidak biasanya, rasa ketakutan, kesepian kemarahan dan pemberontakan menjadi sentiment warga oran. Warga juga membentuk kolektifitas dalam memerangi sampar agar tidak meraja lela. Namun musim panas datang, membuat upaya warga sia-sia, dan ribuan nyawa terus melayang setiap minggunya. Pada bulan agustus, sampar mencapai puncaknya, bahkan pada bulan ini sampar menunjukkan keganasannya. Karena setiap minggunya ratusan ribu nyawa melayang. Basa basi penghormatan akhirnya dilabas warga, jika pada awalnya jasad manusia yang meninggal dunia di kuburkan sesuai dengan kebiasaan keyakinan dengan segala macam ritual, semakin hari korban terus berjatuhan, akhirnya jasad mayat itu pula di kuburkan massa di lapangan bebas agar penyakit sampar tertimbun dan tidak menyebar ke berbagai pelosok kota. Rupanya langkah itu tak mengurangi mayat tertimbun. Akhirnya jasad mayat korban penyakit sampar dibakar di crematorium, asap tebal pembakaran dan bau mayat merebak dan kota oran gelap, lumpun dan bau mayat terbakar. Akhirnya oran berada dalam gelap mati, pemerintah bingung harus berbuat apa menghadapi serangan penyakit sampar itu….
Beberapa bulan kemudian, sampar masih menjadi tragedy. Sampar masih menjadi panggebuk nyawa warga kota oran. Tetapi kemudian para suarelawan disiapkan untuk melawan penyakit sampar. Beberapa orang sukarelawan sempat menjad korban dari penyakit ini. Tetapi kemudian ada dokter telah menemukan obat dalam menanggulangi serta melawan penyakit itu yang dicoba kepada sukarelawan, lalu kemudian korban mulai menurun. Tetapi kemudian di akhir cerita sampar, kata dokter rieuk tikus yang membawa bahaya malapeta, dan tikus telah menggelepar dan kemudian terdiam di juru- kota dan bersembunyi di setiap pertokoan. Menurut dokter penyakit tersbut bukan musnah tetapi bersembunyi.
Hal serupa juga terjadi di negeri ini, negeri indonesia yang sedang terkena krisis serta bencana berkepanjangan. Rupanya sampar telah masuk ke negri ku, saat dimana warga disibukkan untuk memikirkan makanan dan politik, saat itu pula oran dengan jenis plu burung merebak di setiap penjuru kota-kota di negeri Indonesia. Awalnya penyakit satu ini, tak dianggap gila, namun seketika menjadi khawatir saat ratusan orang berjatuhan secara serentak dan tiba-tiba akibat gejala yang sama dari penyakit gila satu ini.
Bagaimana tidak khawatir, sejumlah anak dan orang tua terus berjatuhan tak memandang usia dan ekonomi. Penyakit ini memang misterius, ia masuk ke setiap penjuru kota dan rumah tangga, manusia yang menjadi korban dari nya telah menjadi korban dari keberingasan penyakit satu ini. seluruh warga tak tau harus berbuat apa dan mengapa. Tak sampai disitu sama seperti halnya negeri oran, pemerintah tak bisa berbuat apa-apa untuk pencegahan menahan penyakit satu ini, yakni penyakit plu burung.
Aku sich melihatnya kebijakan yang dikeluarkan pemerintah saat ini hanya sekedar prilaku sesaat dan tidak berkesinambungan. Dalam sketsa itu, mereka telah menjadi korban dan menderita atas keganasan isu, bagaimana segenap warga dibuat berhadapan kepada ruang tanpa batas. Mereka telah menjadi korban kepentingan bagian kelompok warga yang sama-sama tinggal di bumi pertiwi ini.
Selain itu media informasi tempat memberi keterangan dan pencerdasan bagi segenap warga di negeri ini, telah membuat mereka kalang kabut di buatnya. Bagaimana tidak mereka telah menjadi objek dari pemeberitaan, mereka telah dihakimi infomasi.
Bertemu kembali dengan cerita caligulanya camus
Sejak tahun 1941 ahirnya camus dengan serius meneliti perihal penyakit yang bisa melumpuhan manusia. Saat tahun yang sama camus juga merampungan karya absurt nya dalam karya kaligula. Jika dalam karya pertama Caligula, menceritakan bagaimana manusia melakukan pemberontakan seorang diri, namun dalam karya selanjutnya bagaimana manusia melakukan pemberontakan tak hanya sendirian tetapi dilakukan secara kolektif dan kebersamaan.
Lantas apa arti absurd menurut camus, pengertian tentang itu bisa didapat dalam karya Caligula. Yakni seorang kaisar romawi mengartikan bahwa manusia mati, dan mereka tidak bahagia. Karena itu pula kaisar bisa bertindak sesuai keinginannya, dan akan membuat takdir tragis bagi seluruh manusia sebagai budaknya. Jika warga dalam sebuah negri ingin berada dalam kelaparan, maka buat lah mereka dalam kondisi kelaparan, maka kaisar itu selalu bertingkah seperti dewa, untuk menjalankan apa-apa yang absurd, yang tidak dapat dimengerti. Akulah sang pembuat takdir. Maka dalam posisi seperti itu manusia bebas dan sedang memerangi absurditas, maka sebab itu pula manusia bisa disebut sampar, penyakit yang akan membinasakan banyak orang.
Dengan tidak mengiuti logika, manusia dengn tanp berharap dan tujuan ini lah dirinya telah berada dalam absurditas. Sebab bencana akan dating kapan saja di kehidupan nya. Absurditas dalah kesadaran tajam manusia atas ketidakmasukakalan dan kontradiksi yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Lalu camus mengibarkan suara pemberontakan terhadap hidup yang telah diancam penyakit dan kematian itu, memberontak terhadap waktu dan kematian yang telah membatasi eksistensi manusia sendiri. Tanpa tahu dari mana dan mau kemanakah kita, dengan dibayangi kematian itulah, manusia terapung dan dikepung dengan keterbatasan eksistensi.
Lalu bagaimana yang bisa dipetik dari camus saat dirinya menceritakan tentang itu semua, camus mewanti-wanti perihal tidak harus berselisih untuk menjawab pertanyaan sebab dan tujuan kita ada, bahwa diri sebagai individu dan kolektif untuk tidak takluk di depan kejahatan absolute. Ini katanya mewujudkan sikap ringkih dan bertanggung jawab atas diri para korban absurditas eksistensi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar