Selasa, 06 Mei 2008


Perselingkuhan
ha-ha-ha,,,.
kenapa itu,...
kau tawarkan aroma,..
tapi dibiarkan,,,.
kau tenun tapi tak ada jawaban,,,.

Namaku indrianti, aku anak terakhir dari istri kedua bapak ku, keluarga ku memangilnya dengan sebutan indri, karena aku telah tidur dengan laki-laki lain beberapa kali. Mereka kini sudah tidak menghormati ku bahkan tidak mempedulikan kemana dan kanapa aku harus begini, toh aku juga tak peduli kepada mereka.

Aku dilahirkan pada jum at keliwon bulan ketujuh, setelah tuhan ku meniupkan ruh nya saat sperma bapak bertemu kehangatan tubuh ibuku, dalam kandungan aku tak banyak bertanya-tanya, karena jika aku banyak bicara tidak bisa merasakan kehangatan cinta seorang lelaki. Kini bagiku hidup adalah menari, pelajaran ku didapat saat aku masih berada dalam kandungan ibuku, terasakan sperma sering menari sambil berjingkrak jingkrak ditebing-tebing alam sadarku. Layaknya seorang penari, aku sering melengkungkan dan menggerakkan keindahan tubuh di atas hamparan tikar sekaligus di atas pusar seorang laki-laki. Aku tak ingin mendapatkan bayaran sepeserpun, karena aku adalah seorang penari, bagiku menikmati tarian dalam hidup bagian dari cara aku menikmatinya.

Dikampung halamanku aku tumbuh bersama teman-teman ku, sejak kecil aku mempunyai kebiasaan memainkan tarian balet, spintrong, juga makan makanan enak. Setiap pagi dating ibu ku sering membawakanku daun wortol, singkong dan buah-buahan sebagai santapan saat menjelang malam. Namun aku terasa mempunyai kebiasaan buruk, sering mengigau tengah malam, omongan nya tidak jelas. Saat bangun dalam tidur lelap ku, sering aku terbangun seketika dan menjerik sekeras yang aku mau.
“Indri kau tidak apa-apa kan”, kata ibu
Terkadang ibu ku sering dihantui ketakutan, saat aku teriak, saking keras nya teriakan suka membangunkan lelap tidur keluarga juga ibu ku, bahkan para tetangga dirumah tempat tinggal ku kini nampak tidak menghiraukan igauan ku. Sesekali igauan membawa bencana, beberapa atap rumah terlepas karena tak kuat lagi mendengar rasa nyeri igauan dalam tidur malam lelap ku. Tak banyak yang harus di perbuat untuk menghentikan igauan malam gelap itu, ibu biasanya membawakan segelas air hangat untuk aku minum. Tak lama kemudian aku terlelap kembali dalam kehangatan malam igauan.
Tak seperti biasanya minggu terakhir igauan malam ku semakin menjadi-jadi, setiap terlelap dalam tidur malam, igauan nya terdengar semakin keras. Terkadang suaranya membuat Ibu kalang kabut bahkan panic, hingga ibu lupa membawakan segelas air putih untuk ku minum, kali ini ibu hanya terdiam dengan meneteskan air mata, ibu berulang kali berusaha mengeluarkan kata-kata, tapi tidak terdengar jelas. Sambil membangunkan sebagian tubuh nya ibu kemudian berkata, kali ini kau tidak mengigau, kau sekarang sakit anak ku, kau harus ke dokter malam ini, aku tak kuat menahan rasa nyeri mu dalam igauan malam gelap. Ibu duduk kemudian berdiri kembali dan dilakukan berulang kali, nampak terpancar dalam wajah ibu, kejanggalan dan keanehan yang ada dalam diri ku.
Untuk membuat yakin aku katakan pada ibu, “jangan marah ibu aku hanya ingin kembali dalam mimpi ku malam ini”, kata ku.., ibu tidak harus membawaku ke dokter, dan jangan pula membelikan obat untuk ku, itu semua hanya sia-sia belaka, selain harga obat mahal, aku tegas kan pada ibu, igauan malam sunyi ini, aku hanya ingin kembali dalam mimpi hidup ku.
Tak lama kemudian indri pun langsung masuk ke kamar pribadinya, terdengar suara keras pintu kamar di banting, indri terlihat cemas jika semuanya apa yang aku simpan rapat-rapat dan ku kunci dalam bathin ku, jika ibu semua tahu hancur lah sudah. Ungkap indri sambill menangkan jiwa. Dengan melentangkan badan, indri kemudian melihat seluruh isi ruangan kamar, sesekali menatap tajam sebuah lukisan laki-laki dalam sepeda motor. Lukisan dalam bingkai hitam di gantung di pojok kamar, lukisan itu hasil pemberian teman dekat sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Andri biasa dipanggil, sekarang tinggal di kota besar. Sejak perpisahan 2 tahun lalu, kini andri sudah beristri dan mempunyai anak laki-laki usia 3 tahun, beberapa kali aku pernah terlibat seks dan aku melakukan dengan tanpa ada penyesalan bersalah.
Jarum jam terus berubah, kedua mataku tak juga bisa terpejam, malam itu aku hanya ingin berada dalam lukisan pribadi ku, hidup dengan tanpa masalah memang terasa hampa, aku hanya ingin berubah dalam mimpi bersama lukisan sosok laki-laki bermotor. Seketika tubuh ku melayang dan masuk dalam bingkaian lukisan, malam gelap dan kesunyian mendalam, terdengarlah suara lagu-lagu masa jaman dulu dari radio dipojok kamar bagian belakang, ku berusaha mendengarkan berulang kali, namun tak terdengar suara aneh. Begitu juga dengan hidup ku saat aku berjumpa bersama Kesuanyian dan malam gelap. aku bisa tersenyum seperti orang lain melakukan hal sama. Dalam hidup ku bersama malam dan kesunyian, aku hidup sepertinya biasa-biasa saja. Tak ada hal aneh, seperti terdengar dari lagu jaman dulu suara radio di bagian pojok kamar sempat kuceritakan sebelumnya, hidup ini aku lakukan semuanya dengan biasa-biasa saja. Ya…. Biasa-biasa saja, ungkap indri, indri sempet beberapa kali melihat kembali lukisan dalam kama, tak juga bisa membawa kembali masuk dalam mimpi lukisan nya.
Bersama Indri terlihat 3 orang laki-laki mengetuk pintu dan berusaha masuk dengan secara paksa. Tidak terlihat reaksi dari tubuh indri saat ketiga nya datang, indri kau buka pintunya, jangan terdiam di dalam kamar ini. Dengarkan indri kau masih teman lama ku aku masih sanggup membayarmu jika kamu mau menemani aku semalaman., ungkap seorang laki-laki berbadan gembrot dari salah satu mereka. Selang beberapa menit tak juga ada reaksi dari Indri, terlihat hanya bisa memejamkan kedua belah mata nya. Terbayang kembali kehidupan indri bersama ketiga laki-laki ini, mereka pernah merasakan manis dan angat nya tubuh indri secara bergantian. Tak kuat merasa dipojokkan, indri tak juga membukakan pintu kamar bahkan berusaha mengunci rapat-rapat, ketiga laki-laki itu masih tetap berdiri, teriakan dalam not tinggi, pergi lah semuanya, aku sudah muak…, muak…,. indri dihadapakan kembali pada malam gelap dan kesunyian, lukisan pribadi dengan setia menemani indri dalam kesunyian malam gelap. Yang dipikirkan nya adalah ingin sekali hidup berubah dan memang benar-benar berubah, hanya dengan lukisan indri akan tebawa mimpi ke alam bawah sadar.
Terpancar sinar lampu dari bayang lukisan laki-laki bermotor, dia berusaha mengajak masuk ke dalam bingkai lukisan nya, seketika reaksi indri cepat dan bergegas masuk ke lubang lukisan, indri hidup dalam gelap lukisan, menari bercengkrama saking asyiknya indri kemudian tertidur lelap pada malam gelap lukisan sosok laki-laki bermotor.
Dalam mimpi gelap igauan, indri kemudian bertemu teman lamaku, ujon biasa ku panggil, anak tetangga yang masih seusia dengan ku. Badan nya gembrot, hitam kulitnya, ujon mempunyai kemirifan sama dengan ku, selain sering makan juga sering bermain tari balet. Setiap hari aku bermain dadu ketangkasan di halaman beranda rumah ku, dalam mimpi ku ujon sangat suka kepada tubuh ku. Namun ujon tak pandai memainkan permainan nya. Pagi ujon selalu mengajak ku untuk berangkat sekolah, tempat belajarku memang hanya beberapa ratus meter dari rumah tempat tinggal, pertemanan bersamanya tidak berakhir, karena aku masih harus satu kampus dengan ujon. Kini ujon masih menjadi sahabat ku. Kenakalan ujon mulai terlihat saat aku menginjak masa terakhir kuliah. Setiap pulang menari di kursus terian balet, aku sering terjerembab cerita misteri dalam novel percintaan, sesekali aku terlibat cumbu asmara bersama ujon, terbuai asmara si kulit hitam, kami berada dalam alam bawah sadarku. Amarah seks memuncak saat helaian baju ku mulai terulai satu persatu.
Dalam mimpi ku ujon sering mendekap sebagian tubuh ku, malam itu terasa bau tak sedap dari badan ujon. aku berusaha tidak membuat marah teman dalam mimpi ku, napas sedu terakhir ujon membawa dalam dekapan sesaat, menghilang seketika di bawa masa dan waktu. “oh,oh,oh kudengar kegelapan malam di kamar apartemen lu, kedua tubuh ujon kembali menari di atas pusar tubuhku kemudian menghilang secara tiba-tiba.
Saat Pagi aku melihat teman ku lewat jendela rumah, muka nya muncul seketika, tak lama kemudian dia menghilang. Juluran kaki bayi ujon terpantau setengah baya, akibat tertutup selimut kanvas kendaraan. Sudah lebih lima menit aku meperhatikan tingkahnya yang agak aneh, ujon bolak-balik di apartemen ku. 2 tahun lalu memang aku tinggal bersama teman lamaku ujon. Dalam mimpi ku ujon mendengar teriak nya semakin keras dan semakin mendekat, berulang kali ujon memanggil ku diluar kamar apartemen, aku mikir Rupanya ujon ingin sekali merasakan kembali kehangatan tubuh, aku berusaha menghindar dan tak ingin berada dalam dekapan tubuh gembrotnya. Aku berusaha lari lewat jendela apartemen bagian belakang, kunci jendela nya terpaksa di rusak, Berada di lantai sebelas dengan ketinggian memuncak, rasanya memang dihantui dengan kematian. Aku nekad karena aku berusaha untuk membenci ujon..,
“Hai kamu lagi ngapain”, apa yang terjadi hingga kau harus melakukan aksi nekad. Kata tetangga lama apartemen, sekuat tenaga dia berusaha untuk mengeluarkan ku dari baying kematian di lantai sebelas apartemen, beruntung aku selamat. Aku sembunyi di balik bilik-bilik pintu utama dari pencarian ujon. Aku katakana kepada tetangga ku, nanti kuceritakan semuanya. Aku berusaha meminta tolong untuk menunjukkan jalan keluar apartemen, biar bisa bertemu dengan ibu ku.
Aku sempat diusir ibu ku, karena ketahuan bermain balet di atas pusar laki –laki teman bapak ku sendiri. Ku serahkan mahkota keperawanan, saat berlabuh dalam asmara percintaan segitiga di antapani. Meski aku sudah tidak perawan, aku tak menyesali, ku serahkan kepada orang dicintai, tak ada hal aneh, tak ada unggulan tetang cerita keperawanan. Mahkota keperawanan ku serahkan saat kami berdua senang bermain menari balet, tentu dalam hidup lama ku.
Malam di rumah tempat tinggal ku, ibu ku sering memanggil dan memeriksa keperawanan ku saat aku pulang sekolah. Bagian bawah baju ku, diraba kedua tangan ibu, “kamu masih perawan kan” sambil bertanya ibu memeriksa. Meski ku tak habis pikir kenapa ibu selalu memeriksa keperawanan, ingin bertanya namun aku takut. Setiap malam menjelang tidur, ibu selalu bercerita bagaimana indahnya wanita yang bisa menjaga keperawanan layaknya sebuah “mahkota” sang raja, mahkota itu bisa diberikan tak sembarang orang. Hanya orang pilihan lah bisa mendapatkan mahkota.
”perawan seperti hal nya mahkota dan kamu harus menjaga”. Tidak setiap orang bisa merasakan dan tidak harus Kau serahkan ke sembarang laki-laki yang kau kenal. Aku mendidik kamu dalam dunia timur, sebuah negeri dengan norma dan etika sendiri, masayarakat di timur berpandangan perawanan layaknya “adiluhung. Kebiasaan budaya timur kerap kali mengajarkan kita untuk tetap teguh berdiri hidup apa adanya dan tidak mengada-ngada apalagi harus hidup bareng bersama laki-laki dengan tanpa ikatan jelas tentu tidak tidak diperbolehkan. Meski cara pandang itu semua nya tentu berbeda dengan budaya barat. Barat bagi kami ungkap ibu sambil menghirup dalam-dalam napasnya, “kebebasan” bagi kami barat juga gerakan, mereka terlalu indah untuk generasi timur. Secara tiba-tiba pertanyaan ku semakin memuncak, menerawang. Aku tidak bermaksud bertanya kembali kepada ibu ku, terlihat dalam bathin ibu perasaan berat. Aku mengerti betul nak, ungkap ibu ku…, seperti kau memahami betulbagaimana barat mengajarkan semuanya. Kayaknya barat seperti keindahan sketsa kehidupan layar lebar dalam sinetron televisi.
bersambung....
by feri wahyudin
anak manusia

Tidak ada komentar: