Rabu, 19 November 2008
Menjadi Tidak “Indonesia”
Menelusuri kondisi nyata social Indonesia akhir-akhir ini, telah memberikan gambaran kondisi memprihatinkan. menjajaki alam sosial bangsa ku melalui alat penglihatan teori post colonial misalnya, nampak semakin jelas keprihatinan warga tidak pada sebatas tidak mengerti akan bangsa nya, tapi lebih parah mereka menggugat dan sekaligus mencabik-cabik atas nama indonesia. segenap warga bangsa ini mulai dari bagian sabang sampai meroke, berusaha keluar atas nama bangsa nya. kenapa ini terjadi? kenapa mereka tidak ingin menjadi indonesia?
Lihat lah misalnya 2 tahun sebelumnya, indonesia telah di uji atas konplik etnik, konplik kelompok, bahkan ingin merdeka dan keluar dari bangsa bernama "indonesia". papua menuntut, aceh meminta dan sebagian besat kota dan kabupaten menuntuk hak dan keadilan. sejarah dan cita-cita pendirian bangsa bernama "indonesia" telah rapuh sekaligus keluar dari lagu bangsaku negeri ku, yang setiap tahun di nyanyikan bersama para praktisi politik dan pemuda.
kami telah menulis di alamat blog yang sama, terkait problem konplik sosial. intinya memang peta sosial bangsa ku juga warga nya tengah di hantui masalah besar, warga bangsa ini tengah di hantui dendam kusumat. "dendam" kini tengah membesar dan menghantui yang setiap detik diprediksi menjadi kekuatan dahsyat dan meluluh lantahkan
sistem sosial yang ada.
kenapa dendam menjadi terbiasa di seluruh masyarakat ini, alasan lain diantaranya adalah Keberpihakan para penguasa elit politik dan penguasa modal.
“Dendam”
ya kata ini semacam gejala dari dalam, dendam memang tidak baik keberlangsungan sosial. dendam kerap kali muncul saat segenap warga , tidak pernah merasakan tindakan keadilan hakiki, pemberontakan untuk melawan ketidakadilan tersebut membuat amukan badai lalina dari segenap kemarahan. Lihat saja misalnya papua nugini kota sebelah timur Indonesia berusaha untuk memerdekakan kota nya sendiri dan berusaha keluar dari jajahan bernama “Indonesia”.
Sifat dan prilaku agresif yang diperorntonkan sebagian kelompok warga negeri ini Nampak sebagai kekecewaan mereka saat menyikapi rasa ketidakadilan yang didapat. “dendam” meminta hak persamaan bagian kue dari sang majikan, jika tidak ada keadilan dalam pola pembagian hasil dari seluruh pekerja maka yang terjadi adalah rasa iri hati atau dendam. Dalam kondisi tersebut, bias dimaklumi kalau kemudian rasa dendam akan masuk akal.
Dendam pula lahir dari sebuah kerja keras, yang berharap akan mendapatkan penghasilan sama. Missal kan saja negeri Indonesia layaknya sebuah perahu yang berisi muatan penuh dengan tujuan sama. seluruh aktifitas penumpang mendapatkan jatah dan pekerjaan sama, saat mereka akan mendapatkan jatah hasil kerjaan, seluruh penumpang harus rela ngantri. Mereka ngantri lama karena ada harapan akan mendapatkan sesuatu yang di impikan.
Jika kemudian kondisi di lapangan tidak pada kenyataan nya, akan masuk akal kemudian sebagian para penumpang yang sudah rela bekerja keras dan ngantri kecewa dan dendam.
iri hati
Selain itu semua, boleh jadi kita sedang ada masalah dengan diri kita sendiri, tidak lain adalah “iri hari”, seperti dilansir di beberapa rujukan pengetahuan orang iri hati itu selalu melihat dirinya tidak beruntung jika dibandingkan dengan orang lain. Jika upaya membandingkan dengan orang lain, lalu kemudian memunculkan kebiasaan tidak puas dan berkeinginan untuk mendapatkan hal yang sama, baik dalam perlakuan atau mendapatkan jatah.
Bayangkan orang iri hati selalu menyembunyikan agresi dan berusaha untuk tidak ketahuan, bahkan iri hati bias disebut anti social, karena saat melihat orang lain dalam pola perbandingan penderitaan atau gagal, senang. Iri hati selalu melihat orang dari hasil yang didapat, tanpa melihat proses keberhasilan yang memakan waktu lama. Mereka kerap kali menjelekan orang lain dan meminta dukungan terhadap kesimpulan nya.
Yang pasti iri hati kini telah menjadi anti social, karena selain melihat orang lain menjadi saingan juga telah menjadi luka lama masyarakat bangsa ini. Kita semua sepakat kalau kemudian iri hati memang jelek, tetapi ada makna kalimat ini bias masuk akal? Tetpai kemudian kenapa masyarakat terjangkit perasaan iri hati? Tentu perlu jawaban tidak singkat….
Problem kejiawaan “iri hati” dikhawatirkan menjadi kekuatan besar telah meluluhlantakan system social untuk masyarakat negeri, awalnya memang semua menerima perlakuan kerja kera. Dalam bahasa sindhunata, iri hati muncul saat harapan untuk mendapatkan perlakuan layak tidak didapat. Sindhunata mencotohkan nya dengan atrian kendaraan saat terjadi kemacetan.
Tetapi senasib dan sepenanggungan masyarakat berubah agresi, karena mereka tak juga mendapatkan hasil yang sesuai dengan kerja keras. Mereka melihat orang lain mendapatkan hak layak dan berhasil, akibat kedekatan nya dengan penguasa tidak melalui kerja keras. Semestinya proses kerja keras dalam membangun bangsa ini, hasil nya disama ratakan dengan ratusan ribu warga lain nya. tidak yang kaya makin kaya sementara yang kondisi miskin tidak ada harapan untuk melakukan perubahan.
Bagi orang iri hati, hidup tidak dilakukan dengan kerja keras tapi di tentukan dengan nasib, loginya memang menarik, jika kerja keras dalam hidup harus berakhir dengan nasib baik maka tidak akan kemana.
Sial nya kini warga bangsa ini, selain berada dalam luka lama yakni iri hati juga telah hidup tidak memakal akal tetapi nasib. Kenapa kemudian hal itu terjadi akibat dari mendapatkan rasa keadilan yang didapat.
Diam-diam iri hati telah menyelinap ke dalam ruang bathin orang miskin semakin hari iri hati telah memasyarakat, meski mereka menerima dengan apa adanya, boleh jadi iri hati bagi warga bangsa Indonesia bias dianggap masuk akal. Karena tak ada harapan sedikitpun bagi warga miskin akan terjadi perubahan.
Tidak Menjadi “Indonesia”
Bahkan mereka berada dalam keadilan semu, tentu menciptakan keadialn tentu menjadi pekerjaan berat dari pemerintah setempat. Kalau tidak dilakukan tidak menutup kemungkinan terjadi ancaman retakan social. Pemerintah sby rupanya belum bias mentuntaskan masalah tersebut. Maka bagi sebagian budayawan kegagalan pemerintahan sby dalam pola meminimalisir tingkat kemiskinan tentu dengan keadilan yang hakiki dan tanpa membagibagikan keadilan semu.
Feri Wahyudin
november 2008
Selasa, 11 November 2008
Identitas Post Kolonial Di Indonesia.
Merunut kata post berarti setelah, suatu masa atau zaman yang telah berlalu. Kata tersebut sering kali dipakai kata penyambung dari kata yang akan diterangkan. Baik sebuah realitas atau sebuah ideology. Dalam kasus yang satu uni kata yang akan diterangkan nya yakni sebuah jargon ideology kenistaan atau penindasan yaitu colonial.
Keberadaan post colonial di Indonesia kini masih amat terasa, post colonial yang berarti generasi sesudah, tampil dengan wajah baru. Sosok nya kini masuk ke ruang tanpa batas. Dia bangkit dalam bingkai kehangatan simbolisme krisis manusia. Kelompok social dan generasi minoritas sebagai ladang dan ruang sasaran nya.
Tanpa disadari kesadaran kelompok minoritas menjadi terbatasi ruang dan gerak, di curigai dan di singkirkan. Di jarah hak-hak kemanusian dan kebebasan. Kenyataan ini bias terlihat dalam kelompok minoritas Tiongkhoa, kelompok social miskin, petani dan buruh.
Dalam kerangkeng ini, kolonial tampil dalam wajah baru, penjajahan pola baru tersebut, tidak menggunakan senjata bersama amunisi nya, sebagai alat untuk menekan kelompok minoritas. Tetapi memanfaatkan kekuatan politik dan ideom pergerakan yang berlaku pada saat itu.
Kenyataan nya, kita ambil contoh apa yang kita saksikan insiden mei 1998 di Jakarta dan Jogjakarta atau sebagian kota besar di Indonesia, siapa yang menjadi korban gerakan colonial pada tahun kemarin, tidak lain adalah komonitas Tionghoa. Dalam sejarah berdirinya Negara Indonesia, komonitas dan warga tionghoa di Indonesia kerap kali menjadi korban. Percaya atau tidak, ada bukti mereka di singkirkan dengan cara dijarah,diperkosa,di bakar.
Untuk kasus keberadaan tionghoa di Indonesia, memang terlihat pasang surut, warga yang mulai berkembang tahun 1808 di kota Jogjakarta, pada waktu itu tidak lebih dari 758 jiwa. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pulau jawa pada tahun sama, hanya 2,04 % dari jumlah penduduk 94.441. Singkat cerita, warga keturunan tersebut, lima belas tahun berikutnya jumlah nya terus berkembang. Perkembangan jumlah jiwa warga keturunan tionghoa ini, jika di presentase mencapai 0,81% jiwa setiap tahun nya. Hal tersebut terjadi didorong akibat kebijakan politik sultan hamengkubono 1 dan daerah lain di pulau jawa, terkait hubungan harmonis antar kedua belah pihak.
Komonitas keturunan Tionghoa di Indonesia telah menjadi rahasia umum, mereka begitu banyak mengesuai sendi-sendi perekonomian, tidak sedikit warga tionghoa berprofesi sebagai pedagang dengan mobilitas tinggi. Kenyataan tersebut tidak hanya berlaku pada tahun sekarang, tetapi juga berlaku pada satu abad ke belakang. Lalu kemudian, kenapa muncul krisis dan konplik diantara warga pribumi bersama warga keturunan tionghoa di dataran pulau jawa? tidak lain bias di lihat dari keharmonisan warga keturunan tionghoa bersama sultan hamengkubono 1 tahun 1808 di dataran jogja dimanfaatkan warga tionghoa untuk menguasai sendi perekenomian dan menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam hal kebijakan ekonomi yang dianggap telah menyengsarakan warga pribumi dan warga kebanyakan. Seperti pungutan pajak tol diserahkan kepada mereka, industry tekstil dan mudah nya fasilitas pinjaman ke bank. Lebih di perparah lagi tidak ada hokum yang tidak jelas di mata mereka.
Citra dan kesan warga keturunan tionghoa terus memburuk, selain kedekatan dengan pemerintah yang tidak berpihak ke masyarakat kecil, selain komonitas keturunan kerap kali fasilitas lebih untuk menguasai sendi perekonomian.
Apa yang terjadi kemudian, warga pribumi negeri Indonesia hidup dengan penuh dendam. Nampak nya dendam semakin hari semakin menjadi-jadi, bahkan telah menjadi ancaman bagi komonitas warga keturunan khususnya tionghoa. Layaknya seperti bom yang bias membumi hanguskan tataran bangsa ini. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada warga Indonesia.
Dari semua itu, warga keturunan tionghoa telah menerima hukuman dendam warga Indonesia, puncaknya mungkin kita bias lihat dari insiden mei 1998, mereka di usir,fasilitas bisnis mereka di bakar, mereka di perkosa, mereka di bunuh. Tentu ini semua adalh penjajahan dalam pola baru, meski tionghoa sebenarnya telah menjadi pelampiasan dendam warga negeri ini.
Menjadi Tidak “Indonesia”
Bersambung.........
Feri Wahyudin
november 2008
Dalam Karya Lascar Pelangi Andre Herata
“Menulis lah dengan darah, karena darah adalah semangat…”
Layaknya sebuah cerita inspiratif penulis “sanga pemimpi” karya andre herata. Sosok novelis asal Belitung telah menghentakkan masyarakat Indonesia. Andre herata menulis tretalogi buku nya dengan judul sang pemimpi dan lascar pelangi. Novelis agak nya bercerita tentang kehidupan sang penulis bersama teman-teman nya sejak masa kecil, catatan masa kecil ini begitu menarik dan menggugah disaat penulis berusaha menuliskan kembali dalam bentuk novel, kekuatan kata dan kalimat dan ide cerita membuat karya andre tidak dipandang sebelah mata. Bahkan banyak novelis sanggup mensejajarkan dengan karya monumental lain nya, seperti tretalogi Pramoedya Ananta Toeur dan Seno Gumilar Ajidarma.
Kelahiran penulis asal Belitung ini, membuat sejumlah sastrawan asal negeri ini beramai-ramai untuk memberikan komentar, dan tak tanggung-tanggung salah satu karya berjudul lascar pelangi didokumentasikan melalui film dengan pengantar lagu dari group music nigi. Jika kemudian karya andre di telisik atas nama teori sastra, aku tidak begitu paham masuk dalam kategori apa karya nya tersebut. Akibat nya dari pada kita meributkan kembali, kategorisasi sebuah karya, rupanya lebih bermanfaat jika kemudian karya tetralogi andre di bongkar dalam silogisme post colonial dan falsafah gerak tubuh.
Membongkar satu persatu karya andre dalam tetralogi nya, perlu kerja keras, pasal nya karya dibikinan andre tidak hanya bercerita sejarah sosok penulis bersama teman-teman pasa masa kecil. Tetapi ada kekuatan lain di balik cerita yang membuat masyarakat Indonesia termasuk kita, “terganggu”. Dalam istilah lain ada energy yang menggerakkan karya andre herata yang mampu menyulap pemirsa untuk mengajak sekaligus menata kembali apa yang selama ini telah dianggap mapan.
Menurut kami, andre mengajak untuk berani menata dan membingkar apa yang selama ini dianggap benar, baik kebiasaan menolong orang, menentukan mimpi hidup, proses gerak tubuh dan kemanusiaan serta pengetahuan dan pendidikan. Ide simbolisme dalam cerita karya andre inilah membuat ribuan bahkan ratusan ribu warga Indonesia yang sedang tidur lelap telah disulap hingga berani menyimpan karya-karya nya berama ratusan sastrawan di Indonesia dan luar negeri degan menyimpan buku nya di bilik perpustakaan pribadi.
Lantas ada apa dengan andre, sosok penulis satu ini awalnya tidak begitu dikenal dalam dunia sastra di Indonesia, sekitar tahun 2007 andre pekerjaan analis sebuah perusanaan badan usaha milik Negara (BUMN) akhir nya berani mempublikasikan karya nya dengan judul lascar pelangi. Buku lascar pelangi, setidaknya berisi cerita masa kecil penulis bersama Sembilan teman sekolah. Ketekunan dan keberhasilan proses pendidikan tidak terlepas dari kegigihan seorang ibu guru , yang rela menyerahkan diri terjerumus dalam dunia pendidikan di kota Belitung.
Hingga akhirnya kondisi bangunan dan keadaan saran pendidikan yang dianggap kurang memadai tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar. Proses penceritaan semakin menarik saat penulis kembali menggambarkan proses konplik kesembilan anak-anak kecil saat belajar, tak lepas dari konplik kejiwaan untuk mencintai dari si sang tokoh yakni andre.
Lascar pelangi boleh jadi adalah naskah sastra, bercerita dengan konsonan novel, cerita lascar mengajarkan banyak hal. Melalui kecanggihan tangan dan pikiran penulis, cerita lascar membuat pembaca terlibat aktif dalam kultur budaya belitong. Kota yang berada di dataran Sumatra bagian selatan negeri Indonesia ini, telah tergambar layak nya kota yang sedang mencari identitas. Melalui karya andre balitong layaknya kota mati yang sepi keramaian, keterbatasan dan kesedehanaan masyarakat setempat tak juga mengurungkan niat nya untuk membentuk kembali apa yang disebut kota mati.
Kalau dalam cerita nya sampar albert camus, kota mati karena telah diserang penyakit yang belum ada obat mujarab, hingga akhirnya warga telah disibukan mengobati serangan penyakit yang mematikan. Lain dengan cerita belitong, kota sepi yang penduduk nya telah disebukkan dengan serba sulit untuk bertahan hidup dan mencicipi indah nya pengetahuan. Boleh jadi warga balitong tidak sama sekali mempedulikan siapa dan mengapa negeri ini terus diterjang krisis, karena baginya Indonesia adalah sarang kenistaan dan penjajahan. Untuk mencicipi masis nya pendidikan warga harus menunggu jumlah murid yang genapberjumlah sepuluh orang.
Maka bagi kami kota belitong, layaknya kota mati mati dari kemerdekaan pendidikan, kemerdekaan kesehatan dan kemerdekaan krisis budaya juga identitas budaya warga setempat. Bagaimana tidak, untuk bias sekolah saja susah nya minta ampun, tentunya pendapatan yang biasa-biasa saja menjadi alas an warga setempat hanya bias menyekolahkan anak nya ke jenjang smp. Adalah ayah lintang, salah satu murid sd muhamadiyah di kampong belitong, harus bersusah payah menyekolahkan lintang. Ayah lintang sehari-hari berprofesi sebagai nalayan di kampong belitong, dari kesembilan anak nya hanya lintang yang bias mencicipi pendidikan. Ke delapan anak nya tidak pernah sekolah, mereka terpaksa harus melaut untuk mencukupi kehidupan sehari-hari.
Tergambar kota belitong, tidak hanya kota mati dari aktifitas politik dan kemanusiaan. Namun seluruh penduduk nya rupanya malu untuk menyebutkan kampong satu ini. Tergambar seluruh penduduk di kampong ini termsuk orang udik, tidak berpendidikan dan terbelakang. Kampong yang hanya di layani sarana pendidikan ala kadarnya membuat warga setempat tidak percaya jika kemudian mereka bias berkreasi lebih bagus. Warga di kampong ini telah dirudung masalah besar, selain harus menyelesaian masalah ekonomi yang belum berakhir juga mereka telah dihinggapi rasa penyesalan besar, kenapa mereka harus tumbuh di bumi bernama belatong. Secara tidak nyata, warga setempat telah terancam ketakutan yang besar, yakni dihinggapi kematian. Kematian yang setiap saat akan dating secara tiba-tiba, yakni dengan tidak bias makan. Akibat nya pendidikan didaerah ini tidak lah di utamakan,
Bersambung…………..
Feri Wahyudin
November 2008
Jumat, 07 November 2008
Domin Dalam Lukisan Pribadi
Di depan lukisan tangan di kamarnya sendiri, domino tak menemukan dirinya sendiri, setiap hari lukisan itu di lihat namun tak menemukan kenehan bahkan kejanggalan. Lukisan itu ingin membangunkan dan keluar dari kehidupan sehari-harinya, dimalam senja kerap kali membisikan domino untuk masuk agar menemukan cerita hidup berbeda. Ingin sekali domino berubah, dari hidup yang dianggap biasa-biasa saja. Domino selalu berdo a untuk perubahan, kata terdalam dalam bathin nya selalu menuntun jalan baru yang bisa membukakan arah jalan pulang kepada dirinya sendiri. Yang di rasakan domino jalan itu, rambu-rambu nya semakin hari tak kentara dan tak pernah memberikan petunjuk. Jadilah domino terdiam dan dianggap usaha berdoa nya dianggap sia-sia.
Dengan nada tidak berputus asa, usaha berdo a nya tak pernah padam, segudang masalah selalu menghiasi sisi kehidupan domin, hidup bagi dirinya terlihat segalanya memang begitu susah bagi domin, setiap hari selalu saja di rudung tumpukan masalah, bagaimana tidak dianggap sulit selain memikirkan bagaimana warga sekitar terserang penykit, domin juga sudah mulai kesulitan dalam mencari biaya makan. Bahkan dalam itungan jari domino harus meyelesaikan dengan sendirian. Bagi domino hidup adalah menyelesaiakan setumpuk masalah, saking sering nya dirinya menganggap bahwa hidup datar dan tak mempunyai masalah memang tidak mengasikkan. Sking biasanya, sesekali domino mencari maslah agar kemudian ia bisa kembali untuk berdo’a. setiap datang pagi, lantunan do’a untuk dirinya kerap kali di lantunkan. Namun masih saja di depan lukisan itu domino tak juga menemukan dirinya sendiri, meski usahanya kini sudah dianggap di atas rata-rata.
Lukisan hasil pembelian nya beberapa tahun lalu di emperan jalan kota besar di Indonesia negeri krisis ini, terus menerus mengajak domino untuk memasuki nya kawasan-kawasan asing di dalam goresan lukisan, garis merah bercampur warnah hitam membuat domino semakin tergiur untuk berusaha masuk, lukisan itu mengumbar sejumlah harapan bahkan kebahagiaan dalam menemukan dirinya sendiri. Sosok perempuan dalam lukisan di kamar domino membuat dirinya tertegun dan tertunduk dan berkata’ “aku ingin berjalan menapaki sisi menarik dalam hidup ku tebarkan rasa kemanusiaan sambil berkata kepada banyak warga jika kemudian kita masih punya harapan”. Hidup domino tidak mempunyai mimpi, domino hanya ingin keluar dari rasa jenuh yang selalu membosankan. Upaya yang telah dilakukan nya hingga kini belum juga terjelmakan, lukisan itu kini menjadi satu-satu nya barang pusaka yang sering mengajarkan mimpi.
Malam menjelang pagi di bulan februari domino telah asyik menikmati mimpi di dalam lukisan pribadinya, balut wajah perempuan sebagai ‘sosok’ telah membukakan harapan baru dalam perjalanan hidup domino. Setiap menjelang pagi, kini domino mempunyai kebiasaan baru, kerap kali merunut sejumlah mimpi-mimpi hidup di balik lukisan yang baru dimasuki nya. Saking asyik nya terkadang domino berjingkrak-jingkar mirip seorang bocah. Sepertinya domino baru saja mendapatkan rasa kebahagiaan mendalam. Sempat domino mempertanyakan akan lukisan ajaib di kamar nya, mengapa lukisan ajaib itu, bisa memberikan hal menarik terhadap dirinya sendiri. Namun kali ini domino tak ingin menjawab nya sekarang, karena khawatir kenikmatan dunia di balik lukisan hilang seketika.
Di dalam dunia lukisan pribadinya, domino merasakan aroma sejuk yang tak kan pernah di dapat hidup dibalik kamarnya, bunga senja terjejer dalam bingkaian kehangatan tak kan pernah di tukar kan domino dengan apa pun juga. Cahaya matahari memancarkan seluruh relung dan ruang lain, atas cahaya, jejak langkah meruntai juga menapaki arah jalan untuk kembali semakin terlihat jelas. Ada nada riang dan semangat luar biasa, saat domino berpangku sambil duduk termenung di lantai dasar beralaskan kehangatan. Kehangatan dengan goresan keindahan memberikan bukti jika kemudian hidup selalu ada harapan. Cahaya, tikar dan kehangatan membutakan jiwa kelabu domino, akhirnya bertapuk dalam dahan-dahan hijau pohon kehidupan, rasa kalut kebahagiaan seolah di raba seketika dan pergi dalam untaian kebersamaan.
Ia menoleh ke arah dari mana ia datang, bisakan ia kembali ke ruangan sebelumnya? Domino sekuat tenaga berlari kea rah dari mana ia datang, berlari dan terus berlari, ke arah lubang yang dilalui domino, nampak tujuan semakin menjauh, keinginan kuat untuk kembali telah mengalahkan rasa lelah dan lemas domino. Ternyata dirinya sudah berada di ruang yang jauh luar biasa, kini upaya nya semakin mendapat hasil. Domino pun menjatuhkan ke lubang yang dilalui nya, secara tiba-tiba angina kencang mengamini keinginan nya dan seketika terdengar kutukan pintu,
“Domino-domino kok jam segini belum juga bangun,….., bangun lah hari sudah siang, kau harus membantu ibu membereskan barang untuk di bawa ke pasar nanti…”
Seketika domino juga langsung menyahut, iya…., sambil meregangkan napas dalam dan mengingat perjalanan dalam dunia mimpi lukisan pribadinya, domino pun tak kuat menggambarkan kembali ruang aneh yang baru di rasakan,,,.,rasa pilu domino hidup dalam dunia mimpi lukisan hapus sudah dan susah kembali untuik keluar.
Domino kau masih tidur, kau tak akan membantu ibu mu bekerja dan mencari uang di pasar, ibu berharap kau relakan semuanya untuk seorang ibu nak… mendengar seruan ibu nya yang terus bertubi-tubi.
Domino kau tega membiarkan ibu mu bekerja sendirian….
Kau lah anak satu-satunya yang bisa mengerti semua ini domino…
Ibu mu, ingin kau juga belajar bagaimana seharusnya kita menjadi dirimu sendiri, namun kita saat ini terjepit kesusahan ekonomi domin…,
Domin seketika berteriak dan langsung ke luar kamar, sambil menyahut, ibu saya sudah bangun, apa yang bisa saya lakukan untuk mu ibu,..
Tidak ada, domin kau harus keluar dari mimpi mu dalam lukisan,..kita harus berjalan seperti biasanya, seperti kau inginkan domin semakin banyak persoalan dalam hidup, boleh jadi kita semakin dapat mengerti apa sebenarnya harus kita lakukan…
Ibu tahu domin, kita memang takan pernah tau apa yang akan terjadi didepan nanti, namun kita mempunyai kemampuan untuk meraba dan merasakan gejala masa depan itu…,
Percaya atau tidak domin ini semua adalah bagian dari takdir yang kita bikin semua, kau tentu akan menolak apa yang ada dalam pikiran ibu mu tentang takdir, tapi domin, kita semua punya kekuatan dalam menggambarkan nya..,
Ah ibu, lagi-lagi banyak ngomong,,
Mana pekerjaan ku pagi ini,,.bawa lah beras ketan hitam di gudang belakang, serahkan ke seluruh masyarakat di desa margaluyu, katanya mereka sudah dua hari tidak bisa makan. Memang ibu tau dari mana, kalau mereka kini sudah tidak bisa makan lagi,,. Kau jangan banyak tanya, sekarang kau harus pergi, tapi ibu, bukan kah mereka akan merasa terhina atas kehendak mu. Ibu juga tak tahu, tapi memang betul kok mereka sudah tidak bisa makan, benar, benar kok…,
Tak lama kemudian satu genggam literan beras merah, langsung di bawa domin, tak berfikir panjang domine lalu menyisir sisi jalan pelosok kampung margaluyu beberapa meter dari rumah tempat tinggal bersama ibunya, sesekali domin suka berharap, bisa kembali masuk ke ruang dan hidup di balik lukisan. namun domin tau diri jika itu tak lagi mungkin terjadi.
Kini setiap kali domin akan tidur, dirinya sering membayangkan suasana indah dalam dunia mimpi, membayangkan dan berhkayal goresan keindahan kerap kali menyelimuti dalam benak dan otak domin. Sejak kejdian itu, kini domin terlihat agak berbeda, ibu nya sering meratap keanehan, selain sering ngomong sendirian, domin juga suka melentangkan badan di hadapan lukisan perempuan tersebut. Pada suatu hari saat domin terbangun dalam tidurnya, matanya terlihat terbelalak, sambil berada di ranjang tidurnya, suara nya keluar meraung, domin lagi berharap mimpi hidup jadi kenyataan. Beberapa kali di lihat saat bangun tidur lukisan itu tak juga memancarkan cahaya perubahan, dan seolah olah ia tak ingin mengajak lagi domin untuk pergi bersamanya.
Tengah malam, saat hujan deras mengguyur kampong halaman domin, seketika lukisan itu bergerak, dibawah bayang-bayang cahaya lampu cempor kamar domin, sosok perempuan melambaikan tangan dan mengajak domin untuk pergi. Dari sinar cahaya dua belah mata, terlihat sayu, aroma sejuk tercium dari kulit nan putih, sesekali terdengar bisikan perihal ajakan untuk bermain ke kebun mimpi hidup perempuan. Sehelai demi sehelai kain kapan yang menempel di bahu dan badan bagian atas perempaun itu jatuh seketika, desak napas rindu dan cinta nya mulai terlihat. Namun domin tak bereaksi, ia hanya melihat. Lalu bertanya siapa kah perempuan malam yang dating dari lukisan kamar nya tersebut.
Pertanyaan domin tak terjawab, tak berpikir panjang domin lalu melangkah dan mendekati perempuan, lalu terjadinya hubungan intim keduanya, beberapa menit suara indah keluar dari mulut domin saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bersama nya domin kini tau pengetahuan tentang pesta, alat pital, alat seks dan kondom. Di meja kamar nya, terlihat berjejeran kondom dan alat seks lain nya.
Tak disangka-sangka ibu nya, mengetahui kebiasaan mengoleksi barang antik, ibu nya bertutur, domin kau sudah besar, ibu tau kau punya mimpi dalam hidup, kau juga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, kini kau hatus hati-hati, karena ibu sangat menyayangi mud an tak ingin kehilangan mu….
Domin kembali bangun dalam tidur nya, dan melihat cahaya senja masuk ke kamar, domin lalu loncat, karena baginya cahaya senja membuat dirinya berada dalam hidup dalam harapan, senja itu membuat nya semangat jika kemudian kita akan menemukan apa yang ada dalam mimpi ku. Senja membuat dan akan merubah hidup yang membosankan. Saat menapaki dari mana asal cahaya senja, seketika terlihat mayat bergentayangan dan mayat korban pembunuhan tidak satu, domin berfikir lalu menanyakan kenapa ini mudah terjadi dan kemana rasa bersalah manusia, kematian, ya kematian, kenapa terlalu mudah orang untuk mengahasbisi nyawa orang lain.
Malam itu tentu mebuat kaget bagi domin, satu minggu terakhir saat kelaur dari mimpi bersama lukisan perempuan pribadinya, seakan domine berada dalam dunia serba aneh. Kekerasan menjadi bayangan mimpi dan indah. Jika kemudian jadinya hidup, disini ingin sekali domine kembali berada dalam dunia mimpi lukisan tersebut. Namun hal itu di pikirnya tak mungkin terjadi…,
Domin Dalam Lukisan Pribadi
Domin Dalam Lukisan Pribadi
Di depan lukisan tangan di kamarnya sendiri, domino tak menemukan dirinya sendiri, setiap hari lukisan itu di lihat namun tak menemukan kenehan bahkan kejanggalan. Lukisan itu ingin membangunkan dan keluar dari kehidupan sehari-harinya, dimalam senja kerap kali membisikan domino untuk masuk agar menemukan cerita hidup berbeda. Ingin sekali domino berubah, dari hidup yang dianggap biasa-biasa saja. Domino selalu berdo a untuk perubahan, kata terdalam dalam bathin nya selalu menuntun jalan baru yang bisa membukakan arah jalan pulang kepada dirinya sendiri. Yang di rasakan domino jalan itu, rambu-rambu nya semakin hari tak kentara dan tak pernah memberikan petunjuk. Jadilah domino terdiam dan dianggap usaha berdoa nya dianggap sia-sia.
Dengan nada tidak berputus asa, usaha berdo a nya tak pernah padam, segudang masalah selalu menghiasi sisi kehidupan domin, hidup bagi dirinya terlihat segalanya memang begitu susah bagi domin, setiap hari selalu saja di rudung tumpukan masalah, bagaimana tidak dianggap sulit selain memikirkan bagaimana warga sekitar terserang penykit, domin juga sudah mulai kesulitan dalam mencari biaya makan. Bahkan dalam itungan jari domino harus meyelesaikan dengan sendirian. Bagi domino hidup adalah menyelesaiakan setumpuk masalah, saking sering nya dirinya menganggap bahwa hidup datar dan tak mempunyai masalah memang tidak mengasikkan. Sking biasanya, sesekali domino mencari maslah agar kemudian ia bisa kembali untuk berdo’a. setiap datang pagi, lantunan do’a untuk dirinya kerap kali di lantunkan. Namun masih saja di depan lukisan itu domino tak juga menemukan dirinya sendiri, meski usahanya kini sudah dianggap di atas rata-rata.
Lukisan hasil pembelian nya beberapa tahun lalu di emperan jalan kota besar di Indonesia negeri krisis ini, terus menerus mengajak domino untuk memasuki nya kawasan-kawasan asing di dalam goresan lukisan, garis merah bercampur warnah hitam membuat domino semakin tergiur untuk berusaha masuk, lukisan itu mengumbar sejumlah harapan bahkan kebahagiaan dalam menemukan dirinya sendiri. Sosok perempuan dalam lukisan di kamar domino membuat dirinya tertegun dan tertunduk dan berkata’ “aku ingin berjalan menapaki sisi menarik dalam hidup ku tebarkan rasa kemanusiaan sambil berkata kepada banyak warga jika kemudian kita masih punya harapan”. Hidup domino tidak mempunyai mimpi, domino hanya ingin keluar dari rasa jenuh yang selalu membosankan. Upaya yang telah dilakukan nya hingga kini belum juga terjelmakan, lukisan itu kini menjadi satu-satu nya barang pusaka yang sering mengajarkan mimpi.
Di dalam dunia lukisan pribadinya, domino merasakan aroma sejuk yang tak kan pernah di dapat hidup dibalik kamarnya, bunga senja terjejer dalam bingkaian kehangatan tak kan pernah di tukar kan domino dengan apa pun juga. Cahaya matahari memancarkan seluruh relung dan ruang lain, atas cahaya, jejak langkah meruntai juga menapaki arah jalan untuk kembali semakin terlihat jelas. Ada nada riang dan semangat luar biasa, saat domino berpangku sambil duduk termenung di lantai dasar beralaskan kehangatan. Kehangatan dengan goresan keindahan memberikan bukti jika kemudian hidup selalu ada harapan. Cahaya, tikar dan kehangatan membutakan jiwa kelabu domino, akhirnya bertapuk dalam dahan-dahan hijau pohon kehidupan, rasa kalut kebahagiaan seolah di raba seketika dan pergi dalam untaian kebersamaan.
Ia menoleh ke arah dari mana ia datang, bisakan ia kembali ke ruangan sebelumnya? Domino sekuat tenaga berlari kea rah dari mana ia datang, berlari dan terus berlari, ke arah lubang yang dilalui domino, nampak tujuan semakin menjauh, keinginan kuat untuk kembali telah mengalahkan rasa lelah dan lemas domino. Ternyata dirinya sudah berada di ruang yang jauh luar biasa, kini upaya nya semakin mendapat hasil. Domino pun menjatuhkan ke lubang yang dilalui nya, secara tiba-tiba angina kencang mengamini keinginan nya dan seketika terdengar kutukan pintu,
“Domino-domino kok jam segini belum juga bangun,….., bangun lah hari sudah siang, kau harus membantu ibu membereskan barang untuk di bawa ke pasar nanti…”
Seketika domino juga langsung menyahut, iya…., sambil meregangkan napas dalam dan mengingat perjalanan dalam dunia mimpi lukisan pribadinya, domino pun tak kuat menggambarkan kembali ruang aneh yang baru di rasakan,,,.,rasa pilu domino hidup dalam dunia mimpi lukisan hapus sudah dan susah kembali untuik keluar.
Domino kau masih tidur, kau tak akan membantu ibu mu bekerja dan mencari uang di pasar, ibu berharap kau relakan semuanya untuk seorang ibu nak… mendengar seruan ibu nya yang terus bertubi-tubi.
Domino kau tega membiarkan ibu mu bekerja sendirian….
Kau lah anak satu-satunya yang bisa mengerti semua ini domino…
Ibu mu, ingin kau juga belajar bagaimana seharusnya kita menjadi dirimu sendiri, namun kita saat ini terjepit kesusahan ekonomi domin…,
Domin seketika berteriak dan langsung ke luar kamar, sambil menyahut, ibu saya sudah bangun, apa yang bisa saya lakukan untuk mu ibu,..
Tidak ada, domin kau harus keluar dari mimpi mu dalam lukisan,..kita harus berjalan seperti biasanya, seperti kau inginkan domin semakin banyak persoalan dalam hidup, boleh jadi kita semakin dapat mengerti apa sebenarnya harus kita lakukan…
Ibu tahu domin, kita memang takan pernah tau apa yang akan terjadi didepan nanti, namun kita mempunyai kemampuan untuk meraba dan merasakan gejala masa depan itu…,
Percaya atau tidak domin ini semua adalah bagian dari takdir yang kita bikin semua, kau tentu akan menolak apa yang ada dalam pikiran ibu mu tentang takdir, tapi domin, kita semua punya kekuatan dalam menggambarkan nya..,
Ah ibu, lagi-lagi banyak ngomong,,
Mana pekerjaan ku pagi ini,,.bawa lah beras ketan hitam di gudang belakang, serahkan ke seluruh masyarakat di desa margaluyu, katanya mereka sudah dua hari tidak bisa makan. Memang ibu tau dari mana, kalau mereka kini sudah tidak bisa makan lagi,,. Kau jangan banyak tanya, sekarang kau harus pergi, tapi ibu, bukan kah mereka akan merasa terhina atas kehendak mu. Ibu juga tak tahu, tapi memang betul kok mereka sudah tidak bisa makan, benar, benar kok…,
Tak lama kemudian satu genggam literan beras merah, langsung di bawa domin, tak berfikir panjang domine lalu menyisir sisi jalan pelosok kampung margaluyu beberapa meter dari rumah tempat tinggal bersama ibunya, sesekali domin suka berharap, bisa kembali masuk ke ruang dan hidup di balik lukisan. namun domin tau diri jika itu tak lagi mungkin terjadi.
Kini setiap kali domin akan tidur, dirinya sering membayangkan suasana indah dalam dunia mimpi, membayangkan dan berhkayal goresan keindahan kerap kali menyelimuti dalam benak dan otak domin. Sejak kejdian itu, kini domin terlihat agak berbeda, ibu nya sering meratap keanehan, selain sering ngomong sendirian, domin juga suka melentangkan badan di hadapan lukisan perempuan tersebut. Pada suatu hari saat domin terbangun dalam tidurnya, matanya terlihat terbelalak, sambil berada di ranjang tidurnya, suara nya keluar meraung, domin lagi berharap mimpi hidup jadi kenyataan. Beberapa kali di lihat saat bangun tidur lukisan itu tak juga memancarkan cahaya perubahan, dan seolah olah ia tak ingin mengajak lagi domin untuk pergi bersamanya.
Tengah malam, saat hujan deras mengguyur kampong halaman domin, seketika lukisan itu bergerak, dibawah bayang-bayang cahaya lampu cempor kamar domin, sosok perempuan melambaikan tangan dan mengajak domin untuk pergi. Dari sinar cahaya dua belah mata, terlihat sayu, aroma sejuk tercium dari kulit nan putih, sesekali terdengar bisikan perihal ajakan untuk bermain ke kebun mimpi hidup perempuan. Sehelai demi sehelai kain kapan yang menempel di bahu dan badan bagian atas perempaun itu jatuh seketika, desak napas rindu dan cinta nya mulai terlihat. Namun domin tak bereaksi, ia hanya melihat. Lalu bertanya siapa kah perempuan malam yang dating dari lukisan kamar nya tersebut.
Pertanyaan domin tak terjawab, tak berpikir panjang domin lalu melangkah dan mendekati perempuan, lalu terjadinya hubungan intim keduanya, beberapa menit suara indah keluar dari mulut domin saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bersama nya domin kini tau pengetahuan tentang pesta, alat pital, alat seks dan kondom. Di meja kamar nya, terlihat berjejeran kondom dan alat seks lain nya.
Tak disangka-sangka ibu nya, mengetahui kebiasaan mengoleksi barang antik, ibu nya bertutur, domin kau sudah besar, ibu tau kau punya mimpi dalam hidup, kau juga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, kini kau hatus hati-hati, karena ibu sangat menyayangi mud an tak ingin kehilangan mu….
Domin kembali bangun dalam tidur nya, dan melihat cahaya senja masuk ke kamar, domin lalu loncat, karena baginya cahaya senja membuat dirinya berada dalam hidup dalam harapan, senja itu membuat nya semangat jika kemudian kita akan menemukan apa yang ada dalam mimpi ku. Senja membuat dan akan merubah hidup yang membosankan. Saat menapaki dari mana asal cahaya senja, seketika terlihat mayat bergentayangan dan mayat korban pembunuhan tidak satu, domin berfikir lalu menanyakan kenapa ini mudah terjadi dan kemana rasa bersalah manusia, kematian, ya kematian, kenapa terlalu mudah orang untuk mengahasbisi nyawa orang lain.
Malam itu tentu mebuat kaget bagi domin, satu minggu terakhir saat kelaur dari mimpi bersama lukisan perempuan pribadinya, seakan domine berada dalam dunia serba aneh. Kekerasan menjadi bayangan mimpi dan indah. Jika kemudian jadinya hidup, disini ingin sekali domine kembali berada dalam dunia mimpi lukisan tersebut. Namun hal itu di pikirnya tak mungkin terjadi…,
Feri Wahyudin
november 2008
Kamis, 16 Oktober 2008
Harus......
Harus nya bagaimana ........
Dimana.........
Kapan.......
Jika memang..............
Mestinya tidak demikian
Ambil lah semuanya
Jika ada
hi hi hi hi
Terima Kasih
Selasa, 01 Juli 2008
DAWAI IRAMA
Sudah hampir satu bulan kami menunggu hari, malam hari kami berniat menghibur bersama tarian dawai ratu ronggeng. ratu asal kampung tempat kami mengabdi dan tumbuh layak nya manusia lain. jentikan jari dan tatapan mata ronggeng teringat ku pada mimpi sebuah harapan untuk lebih baik. memang ronggeng adalah ronggeng dan telah menjadi dirinya sendiri, malam itu kami terlibat obsesi ratapan tajam mata nya.
Tarian ronggeng nampak nya telah menyadarkan kami akan bapak kepala sekolah ku. tinggal di kampung nun jauh di sana sambil di selingi pohon rindang jalan menuju halaman rumah nya. bagi sosok kepala sekolah ronggeng adalah bagian dari cara kita dalam mengamini hidup, jalan setapak menuju kampung halaman telah memberikan ilmu pengetahuan baru dalam keberanaran.
Puluhan kilometer dari pusat kota dengan batu terjal dan gegunungan, boleh jadi jika pada saat nya nanti tarian tarian dalam hidup perlu ke cerdikan tersediri. pengetahuan jalanan membawaku ke alam serba nyata. memang nyata tidak semestinya benar, namun punya nilai kebenaran tersendiri.
Bagaimana kita, hari ini ku lalui memang tak seperti biasanya, dingin nya malam membangkitkan kami untuk merunut kembali dubaian kalimat dalam buku dan majalah ku. dituntut untuk berani membuka ruang kebebasan dan ruang kreatifitas. imajinasi seseorang telah menjadi modal utama dalam mengembangkan kebebasan nya untuk menentukan mana yang dianggap benar dan tidak benar.
Meski seolah-olah katanya kita telah terbiasa hidup di bawah payung kebenaran orang lain dan katanya, lalu kemudian jika kita tidak memiliki standarisasi kebenaran dalam menentukan langkah, apa lagi yang bisa di pertahan kan. kita semua mengakui susah rasanya untuk masuk ke ruang nyata tanpa ada interpensi apa pun.
Bisakan kah kita berusaha keluar dari jaring wajah orang lain, dan menjadi titik tersendiri tanpa orang lain, hal ini yang dikehendaki dari sejumlah pemikir sekaliber plato dan socrates dalam beberapa sumber nya..
1 juli 2008
feri wahyudin
Anak Bangsa
Rabu, 25 Juni 2008
CENGIKNGIK
cengak cengik suara tangis
seruduk amuk binasa diri
sendu gurau wajah kalut
galau an bersama dendangan
teriak, tak terima
tak ada kata keluar
waduh aku binasa
ya sudah lah
jalan nya di buai mimpi
Jumat, 20 Juni 2008
MENARI BERSAMA PEREMPUAN
Apalah arti perpisahan jika menjadi sebuah keharusan, berharapan untuk kembali menuai sebuah cerita hidup, rangkaian perjalanan tuk bersama nya dalam menari tidak untuk menolak …,
Perpisahan juga perjuampaan bagi domine layaknya menjadi sebuah keharusan, berjumpa bersama perempuan yang masih bisa menikmati dalam bingkai cerita untuk bermmpi besama nya.
icha meminta dan bertanya Gula mana...,
Nah ini dia, gula bisa membuat beda rasa dari teh aslinya.,,
icha langsung menolak, Masa sih, gula nya sedikit bisa hilang rasa pahit , kata nya .
sambil meratap kelembutan sosok wajah icha , tak henti-henti membayangkan. irama menari dalam perjumpaan
Tak terasa berdampingan di kedai dengan menikmati cuaca dingin malam, memberikan arti jelas tentang penjumpaan.
para Pemilik warung gedai sering melihat kami berdua, layak nya sebagai seorang pedagang, membeli dua gelas teh tubruk hingga berjam-jam kembali kami berdua memesan kembali teh tubruk tradisional.
Ratapan icha pada malam itu, terlihat semakin tajam, terdengar suara desah kehangatan, dalam nada perjumpaan hakiki, teh tubruk di minum hingga akhirnya memberikan warna dan kepastian jika sebuah perjumpaan dalam tarian tubuh nya tentu akan berakhir seketika.
Icha pun menarik napas dalam, kehadiran sosok domine di sisi nya kerap kali terlalu berat untuk dinikamati,..., Satu jam sudah domine bersasamanya, perpisahan yang dikehendaki nya tak juga datang. untuk memutuskan nya keduanya langsung meninggalkan lokasi,
dalam perjalanan nya telepon gengam icha terus berbunyi, ada nada panggilan segera untuk menghubungi kembali, namun icha akhirnya tak juga menanggapi,,
seduhan teh untuk kedua kali nya, dengan gambar dan logo berbeda. gambar nya kolonialisme. catatan dan syarat kesetiaan,...,
Tidak perlu , kita menunggu teh untuk diseduh, kata domine
Sekarang kamu sudah terbiasa, rambut urai perempuan dibereskan segera
logo partai kolonialisme telah merampas hati nurani kami berdua, harta karun kenikmatan telah di bawa dalam medan perpisahan bersama sang penjajah.,,
tak lama kemudian Telepon icha kembali berbunyi, suara laki-laki terus meminta untuk di jawab. tak lama kemudian icha menangis tersedu-sedu. akibat telepon tidak berbalik icha berteriak dan meminta pulang.
Rasa was-nampak terlihat dari raut wajah icha, kami berdua kembali pulang dan domine pun mengantarkan nya.
Setiap malam di lalui nya, dengan tidak berharap, kebiasaan dalam rayuan dan buaian dilalui bersama harapan mimpi bersama sebuah lukisan perempuan pribadinya.
Rabu, 18 Juni 2008
DOMIN DALAM LUKISAN PRIBADI
Di depan lukisan tangan. Domino sosok laki-laki kurus terus menatap tajam, setiap hari lukisan pribadi dalam kamar nya terus di lihat namun tak juga bersama, setiap pagi datang Lukisan pribadi nya membangunkan nya tuk keluar dalam rutinitas keseharian, dalam sekap malam Domino selalu membisikan tuk masuk dalam bingkai cerita hidup berbeda. Ingin sekali Domino berubah, hidup yang dianggap biasa-biasa menjadi luar biasa. berbagai cara dilakukan termasuk cara nya dengan berdo'a, kata dalam bathin ingin menuntun jalan baru yang bisa membukakan arah jalan pulang. kerap kali rambu-rambu jalan semakin tak kentara dan tak pernah memberikan petunjuk.
Lukisan pribadi di kamar nya sudah tersimpan hingga belasan tahun, saat itu Domino membeli di emperan jalan kota besar di Indonesia, setiap malam dan menjelang pagi lukisan tersebut selalu mempersilahkan untuk masuk dan menikmati kawasan-kawasan asing di dalam goresan lukisan pribadinya. Garis merah bercampur hitam, tergiur Domine berusaha masuk, terlihat lukisan nya telah mengumbar harapan dan kebahagiaan lain. Ditambah Sosok perempuan dalam lukisan selalu saja berkata’ “aku ingin berjalan menapaki sisi menarik dalam hidup, tebarkan rasa kemanusiaan, jika kemudian kita masih punya harapan”. Hidup domino tidak mempunyai mimpi,
Malam menjelang pagi pada bulan Februari, domino tengah asyik menikmati mimpi dalam lukisan pribadinya, balut wajah perempuan sebagai ‘sosok’ membukakan harapan baru perjalanan hidup domino. Setiap menjelang pagi, Domino kini mempunyai kebiasaan baru, merunut mimpi-mimpi hidup sambil berada di balik lukisan pribadinya yang baru saja dimasuki. karena tidak terbiasa Domino sering berjingkrak-jingkar layak nya seorang seorang bocah.
Domino merasakan aroma sejuk, bunga senja terjejer bingkaian kehangatan tak pernah di tukar dengan apa pun. Cahaya matahari menerangi relung dan ruang lain, memetakan tentang siapa dirinya sendiri. melalui cahaya jejak langkah meruntai sambil menapaki ruah jalan tuk kembali Domino melihat jelas. Ada nada riang dan semangat luar biasa, Domino pun berpangku dengan duduk termenung di lantai dasar beralaskan kehangatan. Kehangatan goresan indah memberi bukti bahwa hidup selalu ada harapan. Cahaya, tikar dan kehangatan membutakan jiwa kelabu Domino, bertapuk dalam dahan-dahan hijau pohon kehidupan, rasa kalut kebahagiaan seolah di raba dan pergi dalam untaian kebersamaan.
Ia menoleh ke arah dari mana seharusnya Domino datang, bisakan ia kembali ke ruangan sebelumnya? Domino berlari ke a rah berlawanan, berlari dan terus berlari, terlihat tujuan semakin dirasa terus menjauh, keinginan kembali mendapatkan mengalahkan rasa lelah dan lemas diri Domino. semangat nya sudah menuai hasil.
terdengar lah teriakan “Domino-domino kok jam segini masih belum bangun juga,….., bangun lah hari sudah siang, kau harus membantu ibu mu tuk membereskan barang ke pasar nanti…”
Seketika Domino langsung menyahut nya, …., sambil meregangkan napas dan mengingat perjalanan masuk dalam dunia mimpi lukisan pribadinya, akhirnya Domino tak kuat lagi untuk kembali masuk tata ruang aneh ,,,.,rasa pilu Domino hidup dalam dunia mimpi lukisan hapus sudah dan susah kembali untuk kembali.
ibu nya terus menyahut, Domino kau masih tidur, kau tak akan membantu ibu mu bekerja dan mencari uang di pasar, ibu berharap kau relakan semuanya nak… mendengar seruan ibu domino bergegas keluar
Domino-domino kau anak durhaka, tega membiarkan ibu mu bekerja sendirian….
Kau lah anak satu-satunya yang terbiasa semua ini …
Ibu mu, ingin kau juga belajar bagaimana seharusnya kita menjadi dirimu sendiri, namun kita saat ini terjepit kesusahan ekonomi domin…,
Domin berteriak dan berlari ke luar kamar, sambil menyahut, ibu ku saya sudah bangun, apa yang bisa saya lakukan untuk mu ibu,.. Tidak ada, domin kau harus keluar dalam mimpi mu lukisan pribadimu,..kita harus menapaki
Percaya atau tidak domin ini semua adalah bagian dari takdir yang kita bikin semua, kau tentu akan menolak apa yang ada dalam pikiran ibu mu tentang takdir, tapi domin, kita semua punya kekuatan dalam menggambarkan nya..,
Ah ibu, lagi-lagi banyak ngomong,,
Mana pekerjaan ku pagi ini,,.bawa lah beras ketan hitam di gudang belakang, serahkan ke seluruh masyarakat di desa margaluyu, katanya mereka sudah dua hari tidak bisa makan. Memang ibu tau dari mana, kalau mereka kini sudah tidak bisa makan lagi,,. Kau jangan banyak tanya, sekarang kau harus pergi, tapi ibu, bukan kah mereka akan merasa terhina atas kehendak mu. Ibu juga tak tahu, tapi memang betul kok mereka sudah tidak bisa makan, benar, benar kok…,
Tak lama kemudian satu genggam literan beras merah, langsung di bawa domin, tak berfikir panjang domine lalu menyisir sisi jalan pelosok kampung margaluyu beberapa meter dari rumah tempat tinggal bersama ibunya, sesekali domin suka berharap, bisa kembali masuk ke ruang dan hidup di balik lukisan. namun domin tau diri jika itu tak lagi mungkin terjadi.
Kini setiap kali domin akan tidur, dirinya sering membayangkan suasana indah dalam dunia mimpi, membayangkan dan berhkayal goresan keindahan kerap kali menyelimuti dalam benak dan otak domin. Sejak kejdian itu, kini domin terlihat agak berbeda, ibu nya sering meratap keanehan, selain sering ngomong sendirian, domin juga suka melentangkan badan di hadapan lukisan perempuan tersebut. Pada suatu hari saat domin terbangun dalam tidurnya, matanya terlihat terbelalak, sambil berada di ranjang tidurnya, suara nya keluar meraung, domin lagi berharap mimpi hidup jadi kenyataan. Beberapa kali di lihat saat bangun tidur lukisan itu tak juga memancarkan cahaya perubahan, dan seolah olah ia tak ingin mengajak lagi domin untuk pergi bersamanya.
Tengah malam, saat hujan deras mengguyur kampong halaman domin, seketika lukisan itu bergerak, dibawah bayang-bayang cahaya lampu cempor kamar domin, sosok perempuan melambaikan tangan dan mengajak domin untuk pergi. Dari sinar cahaya dua belah mata, terlihat sayu, aroma sejuk tercium dari kulit nan putih, sesekali terdengar bisikan perihal ajakan untuk bermain ke kebun mimpi hidup perempuan. Sehelai demi sehelai kain kapan yang menempel di bahu dan badan bagian atas perempaun itu jatuh seketika, desak napas rindu dan cinta nya mulai terlihat. Namun domin tak bereaksi, ia hanya melihat. Lalu bertanya siapa kah perempuan malam yang dating dari lukisan kamar nya tersebut.
Pertanyaan domin tak terjawab, tak berpikir panjang domin lalu melangkah dan mendekati perempuan, lalu terjadinya hubungan intim keduanya, beberapa menit suara indah keluar dari mulut domin saat merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bersama nya domin kini tau pengetahuan tentang pesta, alat pital, alat seks dan kondom. Di meja kamar nya, terlihat berjejeran kondom dan alat seks lain nya.
Tak disangka-sangka ibu nya, mengetahui kebiasaan mengoleksi barang antik, ibu nya bertutur, domin kau sudah besar, ibu tau kau punya mimpi dalam hidup, kau juga mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, kini kau hatus hati-hati, karena ibu sangat menyayangi mud an tak ingin kehilangan mu….
Domin kembali bangun dalam tidur nya, dan melihat cahaya senja masuk ke kamar, domin lalu loncat, karena baginya cahaya senja membuat dirinya berada dalam hidup dalam harapan, senja itu membuat nya semangat jika kemudian kita akan menemukan apa yang ada dalam mimpi ku. Senja membuat dan akan merubah hidup yang membosankan. Saat menapaki dari mana asal cahaya senja, seketika terlihat mayat bergentayangan dan mayat korban pembunuhan tidak satu, domin berfikir lalu menanyakan kenapa ini mudah terjadi dan kemana rasa bersalah manusia, kematian, ya kematian, kenapa terlalu mudah orang untuk mengahasbisi nyawa orang lain.
Malam itu tentu mebuat kaget bagi domin, satu minggu terakhir saat kelaur dari mimpi bersama lukisan perempuan pribadinya, seakan domine berada dalam dunia serba aneh. Kekerasan menjadi bayangan mimpi dan indah. Jika kemudian jadinya hidup, disini ingin sekali domine kembali berada dalam dunia mimpi lukisan tersebut. Namun hal itu di pikirnya tak mungkin terjadi…,
Minggu, 15 Juni 2008
keagungan Nama
keagungan kata
pagi itu aku tersandung kata, kata membangunkan ku dalam tidur lelap
pagi di beranda rumahku aku melihat mu menyapu sampah berserakah
pagi ini aku beranjak pergi yang kutinggalkan amuk kuasa kata
pagi menjelang sore, kusimpan kata
akan ku ajak kembali kata untuk menari bersama jiwaku
akan ku muntahkan keluh kesah ku dalam deretan kata
akan ku hiasi dinding lukisan pribadi ku
akan ku ajari diri dengan badai kehangatan cintamu
dengar kan ada nadir diri, ada kehendak, ada cerita
dengar kan akan ku tebarkan pesona untuk menapaki jejak mu
dengar kan, kebisuan mu hamba dalam derita mu
dengar kan, titik nasib diri mu di tentukan kuasa mu
ingat dendam hatimu terbuka lebar dalam wajah mu
ingat lembab luka mu terus besar
ingat ini adalah proses mu dan ku..,
feri wahyudin
anak bangsa
Senin, 09 Juni 2008
AJARI KAMI KEINDAHAN
AJARI KAMI....,
lelah..., bangun,,,. pergi...,
berdiri,,,. berteriak,,,. bercengkrama...,
hujat,,,. tuduh..., prasangka,,,.
hidangan pagi lelap di guyur hujan...,
dendangan kata, tertegur kuasa kalimat,,.
amuk kata muntah kah tebar...,
wajah mu tebarkan rindu,..,
lidah mu ungkap kan kebencian..,
dada mu terbungkus sanksi,,.
hati mu terkikis kalut zaman..,
lembaga ku terkatuk kuasa
ku tertawa di depan kebengisan
ku melangkah amorfati diri
aku jati diri ternoda
aku adalah aku, yang bisa menari saat kau ajarkan
aku adalah diri, memuncak gunung, mendaki dalam kesadaran ku
aku adalah esensi ku, jalan panjang membutakan mata hati mu
aku adalah realitas tafsir, kebencian mu menyadarkan ku
aku akan tetap menari dalam tarian baletan mu
meski terkadang kau sadar, tidak dengan tuhan mu kawan...,
feri wahyudin
anak bangsa
Kamis, 05 Juni 2008
CARA PANDANG
Tebarkan rasa haru di saat berdiri kukuh...,
feri wahyudin
anak bangsa
bayangkan seorang pekerja keras di sebuah media penerbitan
Rabu, 04 Juni 2008
BERMIMPI MENJADI PENULIS
selamat anda akan menggapai mimpi indah mu..
feri wahyudin
anak bangsa
Rabu, 28 Mei 2008
TAK PERNAH LELAH
Rabu, 07 Mei 2008
Selasa, 06 Mei 2008
Nada Sela
dengar kan nada itu terus mengeluarkan bunyi...,
bunyi nya nyaring....,
tertawalah...,
berteriak sekeras nada mu
nada hidup...,
PERSELINGKUHAN EDISI 2
Namun ini adalah hidup nak, ibu tidak setuju kau lakukan semunya atas cinta misterius. Ingat nak, hidup sepertinya dua belah mata uang, “ada sisi misterius ada bisa terjawab bahkan ada tak bisa di jawab” tak lama kemudian percakapan kami berdua terhenti, seketika aku melihat selendang hitam membasah oleh tetesan air matanya, mata sebelah kanan membengkak. Ku katakan “Ibu kau tidak harus bersedih,” ungkapan ku tak dihiraukan. Aku katakan sekali lagi, “jangan lah ibu selalu di hantui rasa bersalah dan dihantui kematian”. Ungkap ku. Ibu kemudian membalikan selendang basah, tak difungkiri lagi di mata ibu aku termasuk wanita yang tak bisa menjaga keperawanan.
Beberapa hari dalam palirian dari apartemen ku, ku akui aku bertemu dengan banyak sahabat termasuk ibu ku sendiri, meski beberapa hari aku sangat menghargai cara pandang ibu terhadap aku. Meski Aku tak begitu memperdulikan apa yang diraskaan ibu dan bapak tiriku. Rasanya lama-lama bersama ibu ku tak bebas berbuat, cara pandang dan pendidikan membuat aku ingin kembali ke masa jaya ku, dalam masa lalu teman ku selalu menghibur, aku tak mengenall kesedihan, bagi kami mereka adalah ”sahabat” mereka ada saat kami butuh, namun tidak dengan cara ibu memperlakukan ku. Aku merasa sebagai anak tidak berbakti terhadap kedua orang tua, aku tak juga mempedulikan nya, karena dari sejak awal kelahiran aku tak ingin terlahir. Pelarian ku di dekapan laki-laki hidung belang di kota besar, menjadi salah satu pencarian ku untuk menjawab”mengapa aku terlahir”. “sebenarnya ku sudah tidak perawan, dan aku serahkan semuanya kepada seseorang yang aku cintai”, aku katakan kepada ibu ku secara gamblang, kecewa marah lalu aku di usir kembali, aku kini kembali ke kamar pribadi di apartemen.
Aku kembali balik ke apartemen, rupanya kedatangan ku diketahui ujon, selang bebepa menit ujon sudah berada di depan pintu, untuk merayu ku ujon membawa makanan yang biasa di berikan ke binatang kucing kesayangan. Sejak sastu minggu lalu, Lift apartemen menuju kamar pribadi tidak bisa dipakai, nampak terlihat pucat di wajah ujon, saat terlihat dia berdiri di depan pintu kamar di lantai 11. kau nampak terlihat lelah, “kenapa dan Apa yang membuat kamu harus pucat, tanya ku.., sambil meratap wajah ujon.
Kilihat berulang kali , ku tatap sambil mengambil jarak bersama nya, memang terlihat begitu pucat, hatinya hening tak keluar sepatah katapun dari mulut ujon si gembrot, langsung dirinya melempar handuk di tumpukan buku dan helaian kertas kuliah ku. Di pinggir rumpukan rak perpustakaan, Catatan mata pelajaran matematika-fisika juga agama terlihat tidak tersusun rapi saat cahaya lampu warna malam ku nyalakan. Hening sejenak namun amarah kembali memuncak , namun kini tidak dengan tarian tubuh bersama ujon.
“dia mati, dia mati, dia mati”, di wajah nya terlihat bayak luka tusukan bekas senjata tajam. Aku melihat nya langsung saat malam tadi, ujon melentangkan tubuh dengan cara membujurkan sebagian badan nya ke luar kamar ku. Ruangan terlihat semakin sempit saat si gembrot terlentang, aku menunggu dia, tapi tak juga terdengar amarah nafsu nya. “Kenapa apa yang kau rasakan saat ini”, kepada ujon, aku berusaha menenangkan bening hati ujon, sambil membelai tarian baletku ku peragakan untuk menghibur nya, malam itu terasa semakin hening kembali ujon berada dalam dekapan indah mimpiku, dia terbawa bayang aroma tubuh ku. Ujon menarik napas sambil menggulingkan sebagian badan nya.
Seketika keluar kata’ dia mati, dia mati…, laila teman perempuan ujon diketahui meninggal dunia tengah malam dengan luka tusukan di kamar hotel nomor 403, dari tebasan luka nya diketahui bekas pisau godang yang biasa dipakai pedagang kaki sapi dipasar sukabaru bandung. Untuk mengetahui siapa laki-laki yang tega membunuh laila, masih dalam tanda tanya besar benak ujon. Dikamar hotel tersebut rupanya Mayat Laila tak berdiam lama, selang beberapa menit di serbu lalat-lalat hitam yang bikin kamar jadi bau. Pihak kepolisian yang menangani kasus tersebut langsung membawa jenajah laula ke kamar mayat rumah sakit terdekar. Bahkan kasus kematian tidak wajar teman dekat ujon masih dalam berkas pihak kepolisian, Dalam duka Ujon seakan-akan erada dalam bayang-bayang tanpa kandas, dia menari dalam hening mendalam.
Diberanda rumah apartemen tempat tinggal mu, pagi itu terlihat cahaya matahari semakin memancar, goresan hitam di bagian dinding matahari semakin terlihat jelas. Rupanya pagi ini, matahari sedang berada dalam keutuhan dirinya, sebagai pelipur lara. Ia seolah-olah akan membawa khabar baik. Namun di beranda halaman apartemen, sampah berserakah, tumpukan sampah sudah dibiarkan sejak kepergian aku “indri”. Sejak indri datang penghuni suasana mulai berubah, warga di setiap lantai tak ku semuanya kenal. Dari sejak peristiwa perselingkuhan ku bersama laki-laki, kini aku menjadi perbincangan mereka. Setiap pagi mereka selalu menatapku gerakan badan dan langkahku, di balik bilik kamar terpancar rasa kekesalan.
Ditengah pertajanan menuju kawasan rumah susun, jadilah dayang bertemu unto, seorang laki-laki paruh baya. sejak kaki kiri nya patah sehari-hari unto melewati hidup dengan ala kadarnya. ingin sekali berbuat perubahan hidup untuk keluarganya, namun tak banyak yang bisa dilakukan. bagi unto perubahan hidup mimpi nya yang belum kesampaian. unto mempunyai kebiasaan sama dengan warga di kampung nya, lewat jendela unto sering memperhatikan tingkah laku dan aduhai nya tubuh indri..tak terkendali unto mengungkapkan keluh kesah nya saat bertemu indri kepada dayang. "dayang aku sering diajak menari indri di padang rumput halaman nya". ungkapan nya tak terdengar nyata,
Kedua nya merasa tidak berdosa saat mengguliat pagi hari di kamar nomor 205 di hotel megah news york, tetapi kemudian sebut saja namanya laki selingkuhan tersebut adalah samosir yang terlahir dari keluarga terpandang di pulau sumatra, kerap kali mempermainkan hukum, dirinya telah membunuh sedikitnya 6 orang, 3 diantara korban di ketahui berjenis kelamin perempuan, boleh jadi mereka telah menjadi korban pembunuhan setelah dilakukan pemerkosaan terhadap perempuan tersebut. Mengetahui perilaku bejat itu, kelompok manusia marginal sistem mencoba untuk memasukan samosir ke penjara dengan berbagai barang bukti, tetapi dikatahui keluarga kuat dengan di bantu sejumlah uang yang melebihi kapasitasnya membuat samosir tak lama kemudian terlihat sudah menghirup udara segar di kota besar di indoensia.
Feri wahyudin
anak manusia
Perselingkuhan
Aku dilahirkan pada jum at keliwon bulan ketujuh, setelah tuhan ku meniupkan ruh nya saat sperma bapak bertemu kehangatan tubuh ibuku, dalam kandungan aku tak banyak bertanya-tanya, karena jika aku banyak bicara tidak bisa merasakan kehangatan cinta seorang lelaki. Kini bagiku hidup adalah menari, pelajaran ku didapat saat aku masih berada dalam kandungan ibuku, terasakan sperma sering menari sambil berjingkrak jingkrak ditebing-tebing alam sadarku. Layaknya seorang penari, aku sering melengkungkan dan menggerakkan keindahan tubuh di atas hamparan tikar sekaligus di atas pusar seorang laki-laki. Aku tak ingin mendapatkan bayaran sepeserpun, karena aku adalah seorang penari, bagiku menikmati tarian dalam hidup bagian dari cara aku menikmatinya.
Dikampung halamanku aku tumbuh bersama teman-teman ku, sejak kecil aku mempunyai kebiasaan memainkan tarian balet, spintrong, juga makan makanan enak. Setiap pagi dating ibu ku sering membawakanku daun wortol, singkong dan buah-buahan sebagai santapan saat menjelang malam. Namun aku terasa mempunyai kebiasaan buruk, sering mengigau tengah malam, omongan nya tidak jelas. Saat bangun dalam tidur lelap ku, sering aku terbangun seketika dan menjerik sekeras yang aku mau.
